Taubat yang Tulus dan Jujur

Taubat yang Tulus dan Jujur

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pengasih kepada para hamba-Nya dan Dia ‘Azza wa Jalla Maha Mengetahui mereka berikut tabiat mereka.

اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

“Apakah (pantas) Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahalembut lagi Mahateliti.” (QS. Al-Mulk [67]: 14)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa manusia itu tetaplah manusia, meskipun mereka telah mencapai puncak ketakwaan, keshalihan, dan kewaraan. Mereka pasti akan melakukan sebagian apa yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Karena itu Allah membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya dan menyeru mereka menuju ke sana,

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)

Saudaraku yang mulia! Pembicaraan mengenai taubat sangatlah panjang dan para ulama telah membahasnya secara panjang lebar. Tetapi saya akan menyinggung secara singkat yang menurut saya Anda perlu mengingatnya.

1). Kegembiraan Rabb dengan Taubat Hamba-Nya

Masalahnya tidak berhenti sebatas ajakan kepada taubat, janji diterimanya taubat, dan anjuran untuk melakukannya; padahal ini saja sudah cukup memotivasi dan mendorong seorang Muslim untuk melakukan hal itu; bahkan lebih dari itu, Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba-Nya yang bertaubat dan bergembira kepadanya.

Diriwayatkan secara shahih dalam ash-Shahihain, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda,

“Allah benar-benar lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala ia bertaubat kepada-Nya daripada seorang dari kalian yang berada di atas hewan tunggangannya di padang pasir yang tandus, kemudian hewan tunggangan itu hilang darinya, padahal di atas hewan tunggangan itu terdapat makanan dan minumannya. Dia sudah putus asa untuk mendapatkannya kembali, lalu dia menuju sebuah pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan sudah berputus asa terhadap hewan tunggangannya. Saat dia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya sudah berdiri di dekatnya, lalu dia mengambil tali kendalinya, kemudian dia berkata karena sangat bergembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Dia salah ucap karena saking bergembiranya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6309 dan Muslim, no. 2747)

Al-Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Apa dugaanmu terhadap kekasihmu yang engkau cintai yang ditawan oleh musuhmu dan dia menghalangi antara engkau dengannya. Padahal engkau tahu bahwa musuh tersebut akan menimpakan siksa yang pedih dan memberikan berbagai bencana kepadanya, sedangkan engkau ini lebih pantas bersamanya, karena dia adalah tanamanmu dan hasil didikanmu. Kemudian dia lepas dari musuhnya dan menemuimu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bukankah itu mengejutkanmu, sementara dia berada di depan pintumu merayumu, meminta kerelaanmu, meminta tolong kepadamu dan menyungkurkan wajahnya di depan pintumu. Bagaimana rasa gembiramu dengannya, sementara engkau mengistimewakannya untuk dirimu, engkau rela dia berada di dekatmu, dan engkau lebih mementingkannya daripada selainnya?

Demikianlah kenyataannya, padahal bukan engkau yang mengadakan dan menciptakannya serta mencukupkan nikmatmu kepadanya. Sementara Allah ‘Azza wa Jalla, Dia-lah yang mengadakan, menciptakan, dan membentuk hamba-Nya serta mencukupkan kenikmatan kepadanya; dan Dia senang menyempurnakan nikmat-Nya itu kepadanya sehingga dia dapat menampakkan nikmat-Nya, menerimanya, mensyukurinya, mencintai pemiliknya, menaati-Nya, dan menyembah-Nya, serta memusuhi musuh-Nya, membencinya, dan tidak mematuhinya.” (Madarij as-Salikin, 1/237-238)

Betapa indahnya kisah yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Madarij as-Salikin, dimana beliau berkata, “Ini adalah hikayat yang masyhur dari sebagian orang-orang arif bahwa dia pernah lari dan kabur dari tuannya. Kemudian dia melihat di sebuah jalan ada pintu rumah terbuka. Keluarlah dari pintu itu seorang bocah yang sedang meminta tolong dan menangis, dan ibunya berada di belakangnya mengusirnya sehingga bocah itu keluar. Sang ibu lalu menutup pintu di hadapannya lantas masuk kembali. Bocah itu pun pergi tidak jauh dari rumahnya, kemudian dia berhenti dalam keadaan berpikir. Dia tidak menemukan tempat tinggal selain rumah tempat dia diusir darinya. Dia juga tidak menemukan orang yang mengurusnya selain ibunya. Akhirnya dia kembali dengan hati yang menyesal lagi sedih, ternyata dia melihat pintu dalam keadaan tertutup. Kemudian dia berbaring sembari meletakkan pipinya di ambang pintu lalu tertidur. Kemudian ibunya keluar, dan ketika ibunya melihat si bocah dalam keadaan seperti itu, ibunya tak dapat menahan diri untuk menghampirinya. Dipeluknya anak itu dan diciumnya. Dia menangis seraya berkata, ‘Wahai anakku, kemana kamu mau pergi dariku? Siapakah yang merawatmu selainku? Bukankah telah aku katakan kepadamu, jangan menyelisihiku dan jangan melakukan pelanggaran terhadapku sehingga aku melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sudah digariskan padaku berupa kasih sayang, belas kasih dan maksud baikku kepadamu?’ Kemudian sang ibu menggendongnya dan masuk rumah.

Renungkanlah perkataan sang ibu, ‘Jangan melakukan pelanggaran terhadapku sehingga aku melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sudah digariskan padaku berupa kasih sayang, belas kasih…’ Dan renungkan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

‘Allah benar-benar lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada (rasa sayang) seorang ibu kepada anaknya.’

Apalah artinya kasih sayang ibu dibandingkan kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu? Jika seorang hamba membuat-Nya marah karena bermaksiat kepada-Nya, berarti mengundang larinya rahmat tersebut darinya. Jika dia bertaubat kepada-Nya, maka berarti mengundang apa yang layak baginya dan pantas dia dapatkan (rahmat Allah). Ini adalah sekelumit kecil yang memberikan gambaran kepada Anda mengenai kegembiraan Allah terhadap taubat hamba-Nya yang lebih besar daripada kegembiraan orang yang menemukan kendaraannya di tanah yang tandus setelah putus asa. Dan lain sebagainya yang tidak dapat dicakup oleh kata-kata dan tidak dapat dicapai oleh akal pikiran.” (Ibid, 1/235-236)

2). Segera Bertaubat dari Kemaksiatan

Ketika Anda jatuh dalam kemaksiatan dan melakukannya, maka segeralah bertaubat dan bergerak cepatlah untuk melakukannya. Janganlah menunda-nunda dan mengakhir-akhirkan taubat, sebab umur itu berada di Tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Tahukah Anda seandainya Anda dipanggil untuk berangkat, maka Anda harus memenuhi penggilan itu dan Anda harus meninggalkan dunia ini dan datang menghadap Rabb Anda dalam keadaan berdosa dan bermaksiat?

Kemudian menunda-nunda dan mengakhir-akhirkan taubat adakalanya menyebabkan diteruskannya dosa dan rela dengan kemaksiatan tersebut. Jika sekarang Anda mempunyai motivasi untuk bertaubat dan dorongan untuk menahan diri dari kemaksiatan, maka bisa jadi datang saat di mana Anda mencari motivasi tersebut, dan Anda juga berusaha menghadirkan dorongan tersebut, tetapi ia tak kunjung muncul kepada Anda.

Orang-orang yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla menilai sikap menunda-nunda taubat itu merupakan dosa yang lain yang harus bertaubat darinya. Al-Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Bersegera bertaubat dari dosa ialah kewajiban yang harus segera ditunaikan dan tidak boleh di tunda-tunda. Kapan saja seseorang menunda-nundanya, maka dia telah bermaksiat dengan penundaan tersebut. Jika dia bertaubat dari dosa, maka dia harus melakukan taubat yang lainnya, yaitu bertaubat karena menunda-nunda taubat tersebut. Jarang sekali ini terlintas di benak orang yang bertaubat. Bahkan baginya apabila sudah bertaubat dari dosa, maka sudah tidak ada sesuatu yang lain yang wajib atasnya, padahal dia masih harus bertaubat karena menunda-nunda taubat tersebut.” (Ibid, 1/297)

3). Rendahkanlah Dirimu di Hadapan Rabbmu

Para pelaku kemaksiatan pada umumnya mengetahui bahwa dia terjerumus dalam kemaksiatan kepada Allah dan bahwa taubat wajib baginya; tetapi siapa diantara mereka yang mengagungkan Allah dengan sebenarnya, takut kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya?

Memang mengherankan diri kita ini. Kita menikmati lezatnya kemaksiatn dan syahwatnya serta kita berkutat dalam lumpurnya. Setelah itu kita bertaubat, tetapi taubat kita tidak lebih sekedar istighfar dengan lisa, sementara kita lalai dan lengah. Oleh karena itu, orang yang bertaubat, selama dia tidak senantiasa berada dalam “mihrab” taubat, meniti jalan orang-orang yang khusyu’, dan tunduk kepada Rabbnya, maka hendaklah dia meninjau kembali kebenaran taubatnya.

Aspek ini mana mungkin dilalaikan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah, oleh karena itu, beliau berkata, “Diantara konsekuensi taubat yang benar ialah kesedihan khusus yang terjadi pada hati yang tiada sesuatu pun yang menyerupainya dan tidak pula terdapat pada diri selain orang yang berdosa. Ia tidak dapat diraih dengan lapar dan latihan, tidak pula sekedar cinta saja. Rahasia di balik itu semua adalah hati yang menangis di hadapan Rabb secara sempurna yang meliputi seluruh aspek dirinya dan bersungkur di hadapan Rabbnya dengan ketundukan dan kekhusyu’an, seperti ihwal hamba yang lari dari tuannya, lalu dia ditangkap dan dihadirkan di hadapannya. Dia tidak menemukan orang yang dapat menyelamatkannya dari siksanya. Dia tidak melihat ada peluang untuk lari darinya, sangat butuh kepadanya dan tidak mendapatkan tempar berlari darinya. Dia tahu bahwa kehidupannya, kebahagiaannya, keberuntungannya dan kesuksesannya berada dalam ridhanya kepadanya. Dia mengetahui bahwa tuannya mengetahui seluruh aspek kehidupannya. Ini disertai dengan sangat cintanya dia kepada tuannya, sangat butuh kepadanya, dan pengetahuannya akan kelemahan dirinya dan kekuatan tuannya, kehinaan dirinya dan kemuliaan tuannya. Karena berbagai keadaan tersebut, berhimpunlah tangisan penyesalan, kehinaan dan ketundukan yang bermanfaat bagi seorang hamba. Betapa besar manfaat semua itu yang kembali kepadanya, betapa tertutupi kesalahannya dengan semua itu, dan betapa dekatnya dia dengan semua itu kepada tuannya.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai tuannya daripada kesedihan, ketundukan, perendahan diri, kekhusyu’an bersungkur di hadapannya, dan berserah diri kepadanya. Demi Allah, sungguh manis ucapan seseorang dalam kondisi ini, ‘Aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu, sedangkan aku hina kecuali bila Engkau merahmatiku; aku memohon kepadamu dengan kekuatan-Mu, sedangkan aku lemah, dengan sifat tidak butuhnya Engkau kepadaku, sementara aku selalu butuh kepada-Mu; inilah ubun-ubunku yang berdusta lagi berdosa ada di hadapan-Mu. Hamba-hamba-Mu selainku banyak dan aku tidak punya Tuan selain-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan permintaan orang yang perlu dikasihani. Aku meminta kepada-Mu dengan permintaan orang yang tunduk lagi hina. Aku berdoa kepada-Mu dengan doanya orang yang ketakutan lagi buta, permintaan orang yang lehernya tunduk kepada-Mu, hidungnya bersungkur kepada-Mu, air matanya mengalir karena-Mu, dan hatinya tunduk kepada-Mu.’

Wahai Dzat yang kepada-Nya aku berlindung dalam segala aku angankan

Dan Dzat yang kepada-Nya aku berlindung dari segala yang aku khawatirkan

Manusia tidak dapat menyambungkan tulang yang telah Engkau patahkan

Dan tidak pula dapat mematahkan tulang yang telah Engkau sambungkan

Ini, dan contoh-contoh yang serupa, termasuk diantara pengaruh taubat yang diterima. Barangsiapa tidak mendapatkan hal itu dalam hatinya, maka hendaklah dia meragukan taubatnya dan membetulkannya kembali. Memang betapa sulitnya merealisasikan taubat yang benar itu, dan betapa mudahnya mengucapkannya dengan lisan dan sekedar mengklaim saja. Tidak ada terapi yang lebih berat bagi orang yang jujur daripada taubat yang murni lagi jujur, dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.” (Ibid, 1/207-208)

 

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.