SHOLAT HARI RAYA ‘IDUL FITHRI DAN ‘IDUL ADHHA

  1. Hukum Sholat Hari Raya
    Para ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat hari raya:
    Pertama, wajib ’ain. Kedua, fardhu kifayah. Ketiga, sunnah muakkadah.
  2. Waktu Pelaksanaan Sholat Hari Raya
    Waktu hari raya dimulai setelah matahari mulai tinggi, setinggi tombak (artinya setelah berlalunya waktu terlarang untuk sholat) dan berakhir ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat.
  3. Tempat Pelaksanaan Sholat Hari Raya
    Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ia mengatakan,
    “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berangkat pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ke tanah lapang, dan hal pertama kali yang beliau kerjakan adalah sholat.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
    Sunnah yang telah berlaku dalam sholat hari raya adalah dikerjakan di tanah lapang.
  4. Berangkat ke Musholla (Tempat Sholat) dan Adab-adabnya:
    1. Disunnahkan mandi sebelum berangkat
    2. Berhias dan memakai baju yang paling bagus
    3. Makan sebelum berangkat ke tempat sholat pada hari raya idul fithri. Pada sholat Idul Adha diakhirkan makannya.
    4. Mengumandangkan takbir ketika berangkat sholat. Lafazh takbir riwayat dari ibnu Mas’ud:
    اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ
    5. Para wanita termasuk mereka yang sedang haid dan anak-anak pergi ketempat sholat hari raya
    6. Menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari sholat hari raya
    7. Disunnahkan berangkat ke tempat sholat dengan berjalan kaki dan tidak berkendaraan kecuali ada keperluan
    8. Disunnahkan berangkat pagi-pagi ke tempat sholat
  5. Tidak Ada Adzan dan Iqomah Dalam Sholat Hari Raya
    Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, dia mengatakan,
    ”Aku telah berulang kali mengerjakan sholat hari raya bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan itu tanpa adzan dan iqomat.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
  6. Tata Cara Mengerjakan Sholat Hari Raya
    1. Memulai rokaat pertama dengan takbirotul ihrom
    2. Setelah itu bertakbir tujuh kali sebelum membaca surat al-Fatihah.
    3. Tidak ada riwayat dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang doa atau dzikir khusus yang dibaca pada jeda Antara takbir. Akan tetapi Ibnu Mas’ud mengatakan,
    “Di Antara takbir dibaca pujian dan pengagungan terhadap Alloh Ta’ala.” (HR. Al-Baihaqi)
    4. Setelah takbir tujuh kali, maka yang dibaca adalah surat al-Fatihah dan disunnahkan setelahnya membaca surat Qof, wal qur’anil majid (Qof) pada rokaat pertama dna surat iqtarobatissa’ah wa saqqotil qomar (Al-Qomar) pada rokaat kedua sebagaimana ynag dikerjakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, AN-Nasai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah). Boleh juga membaca surat sabbihisma Robbikal a’la (Al-A’la) pada rokaat pertama dan hal ataka haditul ghosyiayah (al-Ghosyiyah) pada rokaat kedua. (HR. Muslim dan lainnya sebagaimana telah disebutkan terdahulu)
    5. Setelah membaca surat tersebut lalu mengerjakan rukun-rukun sholat lainnya seperti biasa.
    6. Bertakbir lagi untuk rokaat kedua.
    7. Bertakbir lima kali seperti takbir pada rokaat pertama
    8. Membaca surat al-Fatihah dan surat yang disebutkan di atas
    9. Menyempurkan sholat dan mengucapkan salam
  7. Bolehkah mengucapkan Selamat Hari Raya
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
    “Adapun ucapan “Taqobballallohu minna wa minkum” atau Ahala alaika”
    dan yang lainnya berlandaskan pada riwayat dari sebagian sahabat, bahwa mereka melakukannya.

Sumber: Kitab Shahih Fiki Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *