Renungan Pasca Romadhon

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu ‘ala asyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin ammaba’adu.

Sahabat da’wah yang di rahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala..

   Begitu cepat Romadhon berlalu seiring berjalannya waktu. Kepergiannya ternyata menyisakan sebaris kenangan yang tersirat di dalam qolbu. Ada Perasaan lega bercampur resah memenuhi hati setiap Muslim yang senantiasa mengharap ridho Alloh ta’ala. Lega karena selama sebulan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan resah jikalau segala amal ibadahnya hanyalah sia-sia dan tidak diterima di sisi Alloh ta’ala  dan tidak mendapatkan balasan.

   Tidak bisa dipungkiri perginya bulan Romadhon melarutkan pula jiwa-jiwa yang hanya menyembah Alloh di bulan Romadhon saja. Ternyata tarbiyah imaniah di bulan Romadhon pada sebagian manusia bukan malah mendidik jiwa dia menjadi insan bertakwa, melainkan menjadikan ia bertambah nista dengan kembali berbuat kemaksiatan dan dosa.

   Lantas bagaimana keadaan kita setelah Romadhon beranjak meninggalkan kita? Apakah kita termasuk orang yang beruntung atau celaka? Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk merenungi diri kita. Mudah-mudahan bersama renungan singkat ini bersamai pula hidayah Alloh menyapa diri kita. Dan semoga segores renungan ini bisa menjadi nasihat takwa bagi jiwa yang menginginkan keridhoan Alloh dan cinta-Nya.

Apa Yang Kita Peroleh Di Bulan Romadhon?

   Seorang muslim hendaknya selalu menghisab diri dengan teliti. Sudahkah kita mendapatkan manfaat dari puasa, sholat serta seluruh amalan di bulan Romadhon? Bertambah kuatkah iman kita setelah Romadhon? Dan benarkah kita mendapatkan ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa Romadhon? Banyak sekali pertanyaan bagi jiwa yang benar-benar tulus mengharap ridho Alloh  semata.

   Bukankah dia bulan taubat dan kesabaran? Namun kenapa perilaku kita tak mencerminkan sikap orang yang bersabar dan bertakwa setelah keluar dari Romadhon? Dan kenapa kita masih saja tenggelam dalam dosa serta acuh memperhatikan akhirat  kita?

Bukankah Alloh ta’ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, ber-takwalah kepada Alloh ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS. al Hasyr: 18)

   Aduhai sungguh beruntunglah bagi mereka yang keluar dari bulan Romadhon dengan taubat dan ampunan. Lautan kebahagiaan bagi siapa saja yang meraih mahkota takwa dalam jiwa mereka di bulan mulia. Mereka itulah yang mendapatkan manfaat di bulan Romadhon. Karena ia seolah hadir kembali di dunia ini dengan lembaran baru yang berharga dalam perjalanan hidup sejatinya menuju Alloh ta’ala.

Janganlah Mengurai Benang Yang Telah Dipintal

   Saudaraku… Jika kita termasuk orang yang mendapatkan manfaat dari puasa, sholat dan segala amalan kita di bulan Romadhon, maka selalu bersyukurlah memuji Alloh . Sekali-kali jangan pernah melirik untuk kembali lagi pada jurang kemaksiatan. Sangat di sayangkan jika mahkota takwa yang tersemat indah di jiwa kita tergantikan dengan corengan dosa dan kemaksiatan. Jagalah ikatan-ikatan iman yang telah terjalin kuat di dalam dada kita dengan selalu menambah ilmu dan keimanan. Betapa banyak orang ketika Romadhon membangun istana ketakwaan, namun setelah berlalu Romadhon kembali lagi kepada tipu daya setan. Masjid yang tadinya ramai mulai sepi kembali dari sholat berjama’ah. Tempat maksiat yang semula ditutup kini kembali ramai diisi jiwa-jiwa yang awalnya mengabdi. Sungguh sebuah fenomena yang mengiris hati dan mencabik-cabik nurani.

Oleh karena itu, janganlah kita seperti yang difirmankan Alloh .

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِي نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثٗا تَتَّخِذُونَ أَيۡمَٰنَكُمۡ دَخَلَۢا بَيۡنَكُمۡ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرۡبَىٰ مِنۡ أُمَّةٍۚ إِنَّمَا يَبۡلُوكُمُ ٱللَّهُ بِهِۦۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

“Dan jangan-lah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah di-pintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…
(QS. an Nahl: 92)

Apakah Diterima Amalan Kita?

   Sesungguhnya orang yang berhasil di bulan Romadhon adalah mereka yang ketika Romadhon mempergunakan detik-detik waktunya untuk ketaatan. Ia lalui siang hari bulan Romadhon dengan puasa  dan menjaga adab-adabnya. Dan di malam harinya ia gunakan waktunya untuk sholat dan membaca Al-Qur’an. Mulutnya senantiasa basah dengan dzikir ke pada Alloh ta’ala. Bahkan linangan air mata taubatnya senantiasa mengalir di sepertiga malam terakhir.

   Bukan sekedar itu, ia senantiasa berusaha istiqomah menjaga amalannya di luar Romadhon. Selalu meningkatkan ketakwaan dengan memperdalam keilmuan. Dan ia tidak ridho jika jalinan iman yang ia rajut susah payah cerai-berai dengan perginya bulan Romadhon. Namun demikian ia tetap takut jika amalannya tidak diterima. Begitu juga selalu khawatir jikalau amalannya tidak ikhlas karena Alloh .

   Maka orang yang beriman, mereka akan lebih memikirkan bagaimana diterimanya suatu amalan dari pada memikirkan untuk beramal itu sendiri. Karena ia meyakini akan firman Alloh ta’ala :

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ 

“Sesungguhnya Alloh hanya mene-rima suatu amalan dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. al-Ma’idah: 27)

   Dahulu para salafus sholih pun senatiasa berdoa selama setengah tahun (setelah Romadhon) agar diterima amal ibadahnya, dan setengah tahun berikutnya berdoa agar dipertemukan dengan Romadhon berikutnya. Semoga semua amalan kita di terima di sisi Alloh.

Jangan Menjadi Hamba Romadhon

   Membahagiakan sekali ketika di bulan Romadhon kaum Muslimin berlomba-lomba melakukan kebaikan, tempat-tempat maksiat ditutup, masjid dan mushola pun membludak dibanjiri orang yang sholat berjama’ah. Indah sekali memang nuansa imani di bulan Romadhon, sampai para artis yang tadinya selalu buka aurat tiba-tiba tampil berjilbab dengan hadirnya bulan Romadhon (walaupun jilbab merekamasih jauh dari tuntunan Islam). Yang jelas kedatangan Romadhon benar-benar membawa berkah bagi semua.

   Namun ironis sekali, begitu Romadhon berlalu tampak redup dan padam pula nuansa  keimanan itu. Tempat-tempat maksiat mulai dibuka lagi besar-besaran, masjid dan mushola mulai ditinggalkan menuju tempat hiburan. Seringkali kita dapati seorang  yang rajin sekali sholat malam dan membaca Al-Qur’an ketika Romadhon. Namun, sayang sekali ia tinggalkan amalannya dengan bergulirnya bulan Romadhon. Di bulan puasa banyak sekali orang taubat dari rokok, tabarruj, dan zina. Akan tetapi ia kembali lagi berbuat dosa bahkan lebih parah dari sebelumnya yaitu berbuat syirik pada Alloh.

   Wahai saudaraku tercinta… Iman apakah seperti ini?! Islam apakah seperti ini?! tidak lain semua ini adalah bermain-main dengan agama Alloh ta’ala. Begitu juga merupakan kedustaan dan kemunafikan terhadap agama Alloh. Bukankah Robb yang kita ibadahi di bulan Romadhon dialah Robb yang kita sembah di luar Romadhon pula?

   Kita adalah hamba Alloh, bukan hamba Romadhon. Ya, hamba Alloh yang memerintahkan agar kita senantiasa (tsabat) dan (istiqomah) di setiap amalan kita baik Romadhon ataupun di luar Romadhon.

   Saudaraku tercinta…bukankah Alloh berfirman dalam kitab-Nya yang mulia.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali ka-lian mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam.”
(QS. Ali Imron [3]: 102)

   Semoga Alloh ta’ala menjadikan kita orang bertakwa.

Wallohu’alam

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *