RAGAM BAHASA DI FLORES

10 bahasa di Flores

Orang Jawa Timur lebih suka berbahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia. Wajar karena bahasa Jawa adalah bahasa daerah terkuat dan paling komplet di Indonesia. Kata-kata yang tidak ada di bahasa Indonesia justru punya padanan berlimpah di bahasa Jawa. Grammar bahasa Jawa pun sempurna.

Karena itu, teman-teman di Jawa–yang suka bahasa ibu–selalu bikin analogi. “Bang, bahasa Floresnya ‘namamu siapa’ itu apa?” begitu pertanyaan yang sering saya dengar. Saya jawab: “Mo naranem heku.”

Hehehe… Teman-teman itu tertawa ngakak karena lucu kedengarannya.

Mo = kamu.

Naran = nama.

Naranem = nama anda (kata milik orang kedua).

Heku = siapa.

Jadi, susunan kalimat dalam bahasa daerah Flores Timur–disebut bahasa Lamaholot–memang tidak umum untuk bahasa-bahasa besar di tanah air macam Jawa atau Melayu. Saya juga ingatkan bahwa pulau Flores plus Kepulauan Solor (Adonara, Solor, Lembata) punya banyak logat yang sangat berbeda. Satu kecamatan bisa 7-8 logat.

“Katanya, tiap kabupaten punya bahasa daerah sendiri? Orang Ngada tidak paham bahasa orang Manggarai dan seterusnya. Apa begitu?” tanya Pak Bambang, budayawan senior dari Sidoarjo.

“Benar sekali!” saya jawab.

Jangankan Ngada dan Manggarai yang memang berbeda kabupaten, dipisahkan gunung dan bukit-bukit, kami di Flores Timur dan Lembata (sebelum reformasi Lembata masuk kabupaten Flores Timur) pun sering kesulitan komunikasi. Orang Larantuka yang berbahasa Nagi–bahasa Melayu ala Larantuka–tidak (atau kurang) paham bahasa Lamaholot. Orang Solor sering sulit menangkap kata-kata saya (Lamaholot versi Ile Ape) meski sama-sama Lamaholotnya.

Bahasa Lamaholot versi Adonara, baik Barat maupun Timur, relatif dipahami semua orang Flores Timur karena dianggap standar. Orang-orang kampung saya yang “melarat” (artinya merantau) di Malaysia kalau pulang pasti berbahasa Lamaholot ala Adonara Timur. Nadanya tinggi, tekanannya jelas, dengan irama yang khas.

“Reu, go Tawau dai kete doi aya-aya di!” ujar si teman, Kopong, bangga. Maksudnya, pulang merantau dari Tawau, dia bawa uang banyak. “Doi nepe go kang tula lango muringen.” (Uang itu mau saya pakai untuk membuat rumah baru).

“Kecongkakan” khas perantau Lamaholot yang menganggap Sandakan, Sabah, Kuching, Tawau di Malaysia Timur sebagai kampungnya sendiri. Hehehe…. Lantas, berapa banyak bahasa daerah di Pulau Flores dan kepulauan di sekitarnya?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab orang awam. Hanya ahli-ahli bahasa (linguistik) dan peneliti bahasa yang bisa. Juga para misionaris Societas Verbi Divini alias SVD yang sejak awal abad ke-19 masuk kampung keluar kampung di Pulau Flores. Hanya para misionaris yang punya mobilitas tinggi. Kalau orang biasa, saya jamin tidak bisa.

Sejatinya, riset tentang bahasa-bahasa di Flores sudah banyak. Namun, bahan-bahannya tersimpan rapi di Belanda. Orang Flores sendiri, karena baru keluar dari alam buta huruf, masih sedikit meneliti bahasa-bahasa di kampung. Beberapa nama yang patut disebut adalah Prof. Dr. Gorys Keraf (Universitas Indonesia), Dr. Inyo Yos Fernandez (Universitas Gadjah Mada), D.A. Kumanireng, A.N. Liliweri, M.M. Pareira. Saya berterima kasih kepada mereka semua.

Dari buku Dr. Inyo Yos Fernandez, saya akhirnya tahu bahwa Flores itu punya 10 bahasa. Bahasa-bahasa ini tidak sehomogen bahasa Jawa, tapi selalu ada variasi di sana-sini. Berikut bahasa-bahasa daerah yang dipakai penduduk Flores dan sekitarnya. Kita awali dari ujung timur.

  1. BAHASA LAMAHOLOT

Digunakan sebagian besar penduduk Kabupaten Flores Timur dan Kepulauan Solor (Adonara, Solor, Lembata). Kami di kampung 100 persen bicara dalam bahasa ini. Susunan kalimatnya, seperti pengantar di atas, berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa sehingga anak-anak kampung macam saya awalnya kesulitan berbahasa Indonesia. Mengubah konstruksi kalimat bahasa Lamaholot ke bahasa Indonesia bukan pekerjaan gampang.

Maka, kalau Anda melihat di televisi orang-orang kampung Flores Timur sulit bicara dalam bahasa Indonesia, ya, begitulah kenyataannya. Memang paham sedikit-sedikit, tapi sulit lancar. Perbendaharaan kata bahasa Indonesia sangat minim. Saya sendiri baru “agak lancar” bahasa Indonesia setelah sekolah di SMP Pankratio Larantuka.

Wilayah Lamaholot dikelilingi lautan. Kontak dengan dunia luar sangat lancar. Maka, sejak dulu orang-orang Lamaholot sudah biasa kedatangan orang-orang luar yang berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. “Kelebihan” lain: sejak zaman penjajahan Portugis, Larantuka menjadi kota utama di Flores Timur dan Kepulauan Solor.

Penduduk Larantuka berbahasa Melayu (atau bahasa Nagi) yang tak lain bahasa Melayu pasar. Ini “memaksa” orang-orang Lamaholot macam kami untuk berbahasa Indonesia meskipun tertatih-tatih. Sampai sekarang pun bahasa Indonesia (yang sudah kompleks) itu masih disebut bahasa Melayu oleh orang-orang kampung di Flores Timur dan Lembata.

“Mo ake koda mang melayuhn terus. Koda mang lohumen hae,” begitu teguran khas adik saya ketika saya selalu bicara dalam bahasa Indonesia dengan orang-orang kampung. (Kamu jangan bicara dalam bahasa Indonesia terus. Pakailah bahasa Lamaholot!)

Memang, orang yang tiap hari berbahasa Lamaholot biasanya tidak suka berbahasa Indonesia. Sebaliknya, orang yang tiap hari berbahasa Indonesia atau Jawa kesulitan mengubah cara berpikir, morfologi, serta sintaksis ala bahasa Lamaholot. Beda, misalnya, dengan bahasa Jawa yang strukturnya sama 100 persen dengan bahasa Indonesia. Wajar saja kalau orang Jawa sangat lentur ketika berbahasa Indonesia.

  1. BAHASA KEDANG

Digunakan penduduk Kecamatan Omesuri dan Buyasuri di Kabupaten Lembata. Orang Kedang ini ibarat orang Madura di Jawa Timur yang bahasanya berbeda total dengan bahasa Jawa. Meski sama-sama di Lembata, dikelilingi oleh mayoritas penduduk berbahasa Lamaholot, orang Kedang punya bahasa sendiri.

Bapak saya pernah jadi guru di Kedang sehingga saya sedikit banyak paham bahasa Kedang. Beda banget dengan bahasa Lamaholot. Karena itu, guru-guru bahasa di Larantuka sering menjadikan bahasa Kedang sebagai bahan guyonan. “Siapa di sini yang asalnya dari Kedang? Angkat tangan,” kata Pak Aldo, guru saya di SMPK San Pankratio Larantuka dulu.

Ketika ada teman Kedang yang angkat tangan, suasana kelas pun riuh. “Pandita ne amo?” canda Pak Guru. Maksudnya, “Bapak mau pergi ke mana?”

Hehehe…. Acap kali kaum “minoritas” menjadi bahan guyonan orang-orang dominan macam Lamaholot karena dianggap aneh. Kok bahasa Kedang lain sendiri? Begitu yang selalu muncul di benar orang Flores Timur.

  1. BAHASA NAGI (MELAYU LARANTUKA)

Digunakan di Kecamatan Larantuka, Wure, dan Konga. Sejenis bahasa Melayu pasar yang berkembang seiring masuknya warga Melayu ke Flores Timur. Digunakan sekitar 25.000 orang. Kata-katanya sama dengan bahasa Indonesia, tapi terpengaruh bahasa Lamaholot dan Portugis.

Meski pemakainya tak sebanyak Lamaholot, bahasa Nagi sangat populer dan mudah dipelajari siapa saja. Macam bahasa Indonesialah. Orang-orang Lamaholot pun tak kesulitan menangkap bahasa Nagi. Karena itu, sejak dulu bahasa Nagi menjadi lingua franca yang andal.

  1. BAHASA SIKA

Digunakan di enam kecamatan di Kabupaten Sika, yakni Talibura, Kewapante, Bola, Maumere, Nita, dan Lela. Menurut beberapa peneliti, ada dua dialek yang dipakai penutur bahasa Sika. Dialek Sika Barat dan Dialek Krowe atau Kangae atau Tana Ai di Sika Timur.

Maumere sejak dulu menjadi kota penting di Flores bagian timur. Ini membuat orang Flores Timur daratan paham beberapa kalimat dasar bahasa Sikka. Biasanya, anak-anak muda Larantuka belajar bahasa Sika dari para sopir atau kernet bus-bus Maumere yang tiap hari datang ke Larantuka.

  1. BAHASA PALUE

Digunakan sekitar 15.000 penduduk Pulau Palue. Pulau vulkanis (ada Gunung Rokatenda) ini lebih dekat dengan Kabupaten Ende, tapi masuk Kabupaten Sika. Tokoh Palue yang terkenal di Jawa Timur adalah Damianus Wera. Dia tabib tradisional yang tiap hari mengoperasi pasien dengan pisau cutter tanpa pembiusan apa pun. Damianus belakangan ini membina Sasana Rokatenda yang mulai berkibar di Jawa Timur.

  1. BAHASA LIO

Digunakan di Kabupaten Ende dengan jumlah penutur hampir sama dengan bahasa Lamaholot, sekitar 215.00 penduduk. Ada enam kecamatan yang menggunakan bahasa Lio: Nangapanda, Ende, Ndona, Wolowaru, Maurole, dan Detusoko.

Sejumlah pengamat menganggap bahasa Ende sebagai bahasa tersendiri. Namun, ahli-ahli terkemuka macam Dr Inyo Fernandez dan Dr Gorys Keraf memasukkan bahasa Ende sebagai salah satu dialek dalam bahasa Lio. “Sebab, tingkat saling pengertian antara penutur bahasa Ende dan Lio sangat tinggi,” tulis Dr Fernandez.

  1. BAHASA NGADA

Digunakan di Kabupaten Ngada, Flores Barat. Penutur bahasa Ngada tersebar di tujuh kecamatan: Aimere, Golewa, Mauponggo, Nangaroro, Boawae, Bajawa, Aesesa. Seperti bahasa-bahasa lain di Flores, bahasa Ngada pun mengenal macam-macam dialek.

Pater Arndt SVD sejak 1930-an sudah melakukan penelitian mendalam tentang bahasa dan budaya Ngada. Pada 1933 pastor ini bahkan sudah menulis tata bahasa Ngada, kemudian kamus Ngada-Jerman pada 1961. Ini menunjukkan bahasa bahasa dan kebudayaan Ngada menjadi kajian penting ketika misionaris SVD merintis misi Katolik di Flores.

  1. BAHASA REMBONG

Digunakan di Riung Tengah, Kabupaten Ngada bagian utara. Kawasan ini berbatasan dengan Manggarai dan pengguna bahasa Ngada. Jumlah penuturnya cukup banyak, 20 ribu orang. Di kawasan ini, pesisir utara, juga ada penutur BAHASA BAJO. Bahasa ini dipakai orang-orang suku Bajo, kaum nelayan yang biasanya berumah di atas laut.

  1. BAHASA MANGGARAI

Bahasa paling banyak penuturnya di Flores. Sekitar 500.000 penutur bahasa ini tinggal di Kabupaten Manggarai, ujung barat Flores. Ada sembilan kecamatan: Lembor, Satarmese, Mbrong, Elar, Lambaleda, Ruteng, Cibal, Reo, Kuwus. Menurut Fernandez, bahasa Manggarai kurang menampakkan pengaruh luar karena penuturnya “lebih akrab ke dalam”.

Pakar-pakar Barat juga sudah lama meneliti bahasa Manggarai. Sebut saja J.A.J. Verheijen yang menulis Kamus Manggarai-Indonesia pada 1967 dan Kamus Indonesia-Manggarai pada 1970. “Alam yang bergunung-gunung dengan sungai dan hutan yang belum disentuh tangan manusia turut berperan dalam membentuk dialek-dialek di Manggarai,” kata Dr. Fernandez.

  1. BAHASA KOMODO

Digunakan di pulau-pulau kecil yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Selain Pulau Komodo yang terkenal dengan buaya darat, varanus komodoensis, pengguna bahasa Komodo tinggal di Pulau Rinca. Berbatasan dengan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, bahasa ini terpengaruh bahasa Bima yang dipakai penduduk Pulau Sumbawa.

Bagikan dengan :
Posted in Berita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *