Pengertian Tujuan Pendidikan Islam (Page 2)

Oleh : Ust. Jumat Ridwan, S.Ud

Bismillahirohmanirrohim

Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokatuh

Berikut ini tiga pengertian, yaitu pengertian tujuan, pengertian pendidikan dan pengertian Islam.

  1. Pengertian Tujuan

   Istilah “tujuan” atau “sasaran” atau “maksud”, dalam bahasa Arab dinyatakan dengan ghayat, ahdaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah “tujuan” dinyatakan dengan “goals atau purpose atau objective atau aim”. Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu arah suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya atau aktivitas.  Tujuan, menurut Zakiyah Drajat, adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.

   Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia dipaparkan tentang makna tujuan, yaitu arah; haluan (jurusan); yang dituju; maksud tuntutan (yang dituntut).

   Tujuan adalah upaya yang dicanangkan oleh manusia, diletakkannya sebagai pusat perhatian, dan demi merealisasikannya dia menata tingkah lakunya. Tujuan itu cakupannya amat luas. Di dalam tujuan tercakup berbagai masalah, yaitu keinginan, proses, ramalan dan maksud.

   Dalam pembahasannya tentang “sekitar pengertian tujuan”, Nata menyatakan bahwa, pembahasan tujuan ini dapat dijumpai dalam kajian tentang niyat dengan berbagai aspeknya.

   Dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Islam” Nata mengutarakan bahwa, di dalam bahasa Arab terdapat sejumlah istilah yang berkaitan dengan tujuan pendidikan. Sejumlah istilah ini antara lain al-niyat, al-iradah, al-ghardu, al-qashdu, al-hadf, dan al-ghayah.

   Rahmat Rosyadi menjelaskan bahwa, terminologi “tujuan” di bidang pendidikan terdapat berbagai istilah yang berasal dari bahasa Inggeris, yaitu aims, goals dan objective. Ketiga istilah menunjukkan indikator sebagai hasil akhir suatu proses pendidikan yang dicita-citaka atau yang diinginkan. Dalam kamus The Ocford English Dictionary, mendefinikan aims sebagai perbuatan yang menentukan cara berkenaan dengan tujuan yang diharapkan. Hirs dan Peters, seperti yang dikutip oleh Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’ān, menegaskan bahwa: “Konsep aims ini diperoleh melalui penekanan target khusus yang terdapat pada suatu distansi tertentu. Pernyataan ini secara implisit menyatakan, bahwa jangkauan goals tidak mungkin bisa dicapai melainkan dengan upaya yang dikerahkan sekuat tenaga. Upaya yang harus dikerahkan ini termasuk juga dalam karakteristik pokok goals. Hal ini menunjukkan bahwa kata goals dan aims adalah dua kata yang bermakna sinonim”.

   Menurut para ahli pendidikan, bahwa penggunaan kata aims dan goals berbeda dengan istilah objective. Kata objective mempunyai pengertian yang lebih sederhana dan lebih ringkas menuju ke arah aims dan goals. Namun sebgain ahli pendidikan menyebut istilah objectives ini sebagai tujuan antara menuju ke arah tujuan umum. Mereka menggunakan istilah aims dalam referensi hasil khusus. Maka hasil pendidikan tidak dapat dikatakan objective kecuali dikhususkan dan ditempatkan pada bentuk-bentuk yang dapat diamati. Aims dipandang oelh sebagaian ahli pendidikan sebagai tujuan umum, sedangkan objective digunakan untuk tujuan khusus.

   Dalam bahasa Arab, istilah “tujuan” berpadanan dengan kata maqāshid yang menunjukkan kepada jalan lurus. Kata ini merupakan jadian dari qashada yag tersebar dalam Al-Qur’ān yang memberi arti pokok. Dalam Surat Al-Nahl: 9 ada kata qashdu al-sabil yang ditafsirkan kepada “jalan yang lurus”.

   Dalam bukunya “Pengantar Pendidikan Islam”, Sholeh Ali Abu Arrad  setelah membahas makna hadf (tujuan) dan ghoyah (capaian) pada sub judul Tujuan Umum Pendidikan Islam bahwa, “Kita perhatikan mengenai perbedaan pandangan mereka (murobbi, pemikir dan pemerhati) secara umum pada perkara berikut ini:

  1. Bahwa mereka tidak membedakan antara hadf (tujuan jangka pendek) dan ghoyah/capaian (tujuan jangka panjang). Di antara mereka menyebutkan pendapatnya pada bab ini dengan kata “al-Ahdaf”. Di antara mereka menyebutkan dengan kata “al-Aghrodh”. Di antara mereka menyebutkan dengan kata “al-Ghoyah”.
  2. Mereka juga berselisih pada bilangan tujuan, di antara mereka menentukan satu tujaun saja. Di antara mereka menentukan beberapa tujuan.
  3. Penentuan tujuan pada mereka berputar pada empat tingkatan. Yaitu:

Pertama    : tujuan-tujuan seputar peribadahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua       : tujuan yang berputar pada tingkatan individu.

Ketiga       : tujuan yang berputar pada pembangunan masyarakat Islami, atau umat Islamiyah.

Keempat   : tujuan yang berputar pada perwujudan manfaat duniawi dan akhirat.

  1. Pengertian Pendidikan

   Orang yang pertama kali menggunakan istilah ‘tarbiyah’ adalah Ibnu Khaldun. Hal ini dinyatakan oleh Shalih Ali Abu Arrad, “Di sini layak diisyaratkan bahwa pertama kali digunakan istilah ‘tarbiyah’ dalam buku warisan pemikiran Islam, adalah Abdurrohman bin Khaldun yang hidup pada abad 8 hijriyah. Di mana, diyakini bahwa dia pertama kali menggunakan istilah ini, tatkala mengisyaratkan sebuah buku dari buku-bukunya yang terkenal “al-Muqaddimah” yang dikenal dengan dengan “Muqaddimah Ibn Khaldun”.

   Makna tarbiyah secara bahasa diutarakan Shalih Ali Abu Arrad bahwa, asal kata ‘al-tarbiyah’ dalam bahasa Arab kembali kepada kata kerja ‘robaa’ ( (رباyang berarti bertambah dan tumbuh.

  1. Sarbini (Buku: Pendidikan Di Masa Rasulullah ﷺ,) memaparkan bahwa, secara bahasa, kata tarbiyah memiliki lima makna, yatu: (1) al-ziyādah wal-namā yang berarti pertumbuhandan pertambahan; (2) al-nusyū wal tara’ra’u yang berarti perkembangan dan pembesaran; (3) al-hifzh wal-ishlāh yang berarti pemeliharaan dan perbaikan; (4) al-tazkiyah wal-irtifa’ yang berarti kesucian dan ketinggian; (5) bertanggung jawab mengurus, mendukung, menjaga dan mengarahkan sesuatu unutk semua kemaslahatannya. Menurut Hasan Langgulung, pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang sedang didik.

   Abudddin Nata menjelaskan bahwa, selama ini, buku-buku pendidikan Islam telah memperkenalkan paling kurang tiga kata yang berhubungan dengan pendidikan Islam, yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Jika ditelusuri ayat-ayat Al-Qur’ān dan matan as-Sunnah secara mendalam dan komprehensif sesungguhnya selain tiga kata tersebut masih terdapat kata-kata lain yang berhubungan dengan pendidikan. Kata-kata lain tersebut, yaitu al-tazkiyah, al-muwa’izhah, al-tafaqquh, al-tilawah, al-tahzib, al-isyad, al-tabyin, al-tafakkur, al-ta’aqqul, dan al-tadabbur.

   Pendidikan berasal dari kata ‘didik’ yang memiliki arti memelihara dan memberi latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan dalam Islam mengandung pengertian yang sangat luas, yaitu kegiatan dalam bentuk arahan, bimbingan, pembinaan, perintah, peringatan, pemberian pengetahuan, penjelasan, pendalaman pemahaman, pencerahan akal dan spiritual, pencerdasan, pengajaran dan penyucian diri. Mengenai arti pendidikan Anung Al-Hamat mengutip pendapat Hasan Langgulung yang menyatakan, “Dengan kata lain pendidikan adalah suatu tindakan (action) yang diambil oleh sutu masyarakat, kebudayaan, atau peradaban untuk memelihara kelanjutan hidupnya”.

   Rahmat Rosyadi mengungkapkan bahwa, secara etimologis, pendidikan sebagai perbuatan (hal, cara, dan sebagainya mendidik; dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau pemeliharaan (latihan-latihan dan sebagainya) badan, bathin dan sebagainya. Pengertian pendidikan secara terminologis, disebutkan dalam Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 1 angka 1, bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pengertian pendidikan dalam konteks pendidikan Islam sinonim dengan kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim. Menurut Musthafa al-Maraghy pengertian al-tarbiyat secara terminologis dibagi kedalam dua bagian, yaitu:  (1) Tarbiyah khalqiyah, yaitu penciptaan, pembinaan, dan pengembangan jasmani agar dapat dijadikan sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya; (2) Tarbiyah diniyah tahzibiyah, yaitu pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya melalui petunjuk wahyu Ilahi.

   Abd al-Rahman al-Sa’di menjelaskan bahwa, tarbiyah Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus. Tarbiyah umum, yaitu menciptakan semua makhluk, memberinya rizki, serta memberikan petunjuk mereka kepada semua hal yang mengandung kemaslahatan untuk dapat menjalankan kehidupan di dunia. Tarbiyah khusus, yaitu mendidik para wali-Nya dengan pendidikan iman, memberi mereka taufik dan menyempurkannya serta mencegah berbagai unsuryang dapat mencegah sampainya hidayah kepada mereka.

   Dalam pandangan Islam, pendidikan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengaplikasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan. Ahmad Tafsir menyampaikan bahwa, pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspek. Definisi ini mencakup kegiatan pendidikan yang melibatkan guru maupun yang tidak melibatkan guru (pendidik); mencakup pendidikan formal maupun nonformal serta informal. Segi yang dibina oleh pendidikan dalam definisi ini adalah seluruh aspek kehidupan.

Herbert Spencer mendefisikan pendidikan sebagai “persiapan untuk hidup secara sempurna”.

Heri Jauhari Muchtar mengutarakan bahwa, pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta memiliki potensi atau kemampuann sebagaimana mestinya.

Berbagai definisi pendidikan yang berbeda-bebeda ini tentu ada penyebabnya. Mengenai hal ini Anung Al-Hamat mengambil pendapat Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa, “Para pakar pendidikan belum ada kesepakatan mendefinisikan pendidikan. Sulitnya merumuskan definisi pendidikan disebabkan oleh banyaknya jenis kegiatan yang disebut sebagai kegiatan pendidikan dan luasnya aspek yang dibina oleh pendidikan”.

  1. Pengertian Islam

Memahami arti Islam itu sangat mudah, yaitu dengan cara membaca dan mentabburi sumber asasi Islam yaitu Al-Qur’ān dan Al-Hadits. Sumber asasi tersebut memaparkan secara jelas apa arti Islam.

Allah Ta’ala berfiman dalam Surat Āli ‘Imrān ayat 18:

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang di sisi Allah adalah Islam”.

   Mengenai ayat ini Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Ini merupakan kabar dari Allah bahwasanya tidak ada agama di sisi-Nya yang diterima dari seseorang selain Islam. Yaitu mengikuti para Rasul dalam setiap apa yang mereka bawa pada setiap saat hingga berakhir pada Muhammad ﷺ. Yang mana jalan menuju diri-Nya ditutup kecuali melalui jalan Muhammad. Maka barangsiapa menemui Allah (meninggal dunia) setelah diutusnya Muhammad dalam keadaan memeluk agama yang tidak sejalan dengan syari’atnya, tidak akan pernah diterima. Sebagaimana yang difirmankan-Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali Imran: 85)

Dari paparan di atas bisa dipahami bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang ada di sisi Allah. Agama yang dibawa oleh para rasul hingga rasul terakhir yaitu Muhammad ﷺ.

   Jalaluddin menjelaskan bahwa, secara derivatif makna Islam mengacu kepada kata-kata: istislam (penyerahan diri kepada ketentuan Tuhan), salama (keselamatan), salima (kedamaian), silm (kesontosaan) dan sullam (peningkatan). Selanjutnya dalam pendekatan terminologie, Islam diartikan agama tauhid yang ditegakkan oleh nabi Muhmmad ﷺ selama 23 tahun di Makkah dan Madinah.

   Demikian juga dalam buku “Kamus Arab-Indonesia” dicantumkan derivasi makna Islam kembali kepada kata-kata, yang di antaranya adalah: salima (selamat, sentosa), aslama (tunduk, patuh, beragama Islam), silm (Islam, damai, selamat)…

   Abuddin Nata mengutip pendapat Maulana Muhammad Ali yang menyampaikan bahwa, “Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian”.

   Arti Islam dipaparkan dalam buku “Bunga Rampai Aqidah Islam” bahwa, “Islam berarti penyerahan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan beriman dan bertauhid kepada-Nya serta mengikuti syariat-Nya yang dibawa oleh para rasul-Nya”.

   Dalam buku “Islamic Worldview”, Abbas Mansur Tamam mengutarakan definisi Islam berdasarkan hadits Jibril, yaitu engkau bersaksi tidak Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalh utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.

Rasulullah ﷺ bersada:

اْلإسْلَامُ أَنْ تشهدَ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ اْلبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا

“Islam adalah engkau bersaksi tidak Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalh utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu”. (HR. HR. Muslim)

   Mengenai hadits ini Muhammad bin Shālih al-‘Utsaimīn menjelaskan bahwa, yaitu mengakui dengan lisan dan hati, tidak cukup dengan lisan saja, tetapi harus memadukan antara kesaksian lisan dan hati.

Islam memiliki makna umum (‘ām) dan makna khusus (khāsh). Hal ini diketengahkan oleh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaimīn:

الإسلام بالمعنى العام هو التعبد لله بما شرع منذ أن أرسل الله الرسل إلى أن تقوم الساعة كما ذكر عزوجل ذلك في آيات كثيرة تدل على أن الشرائع السابقة  كلها إسلام لله عزوجل : قال الله تعالى عن إبراهيم : (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَّكَ ) [سورة البقرة , الآية: ١۲٨] . ولإسلام بمعنى الخاص بعد بعثة النبي ﷺ يختص بما بعث به النبي ﷺ نسخ جميع الأديان السابقة فصار من اتبعه مسلما ومن خالفه ليس بمسلم …

“Islam dengan makna umum yaitu beribadah kepada Allah berdasarkan apa-apa yang disyariatkan sejak Allah mengutus para rasul sampai hari qiyamat. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwasanya syariat-syariat terdahulu semuanya itu berislam kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman tentang Ibrahim: Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri (muslim) kepada Engkau dan dari (jadikanlah) di antara keturunan kami umat yang berislam (tunduk patuh) kepada Engkau”. Surat Al-Baqarah ayat 128. Dan Islam dengan makna khusus ialah setelah diutusnya Nabi ﷺ yakni mengkhsuskan kepada apa-apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ , karena apa-apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ itu menghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga barang siapa yang mengikuti beliau ﷺ maka dia adalah Muslim. Dan barang siapa yang menyelisihi beliau maka dia bukan Muslim…”

   Dalam buku “Bunga Rampai Aqidah Islam” dijelaskan juga bahwa: “Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan dan disyari’atkan Allah   Subhanahu Wa Ta’ala serta satu-satuya agama yang diakui dan diterima-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama selainya, dari siapun, di manapun dan sampai kapanpun juga… Islam adalah satu-satunya agama yang dibawa oleh para rasul, sejak rosul pertama hingga rasul terakhir, Nabi dan Rasul Allah yang diutus kepada kita, Muhammad ﷺ . Islam pun adalah agama yang dibawa oleh Nabi Musa  ‘alaihissalam dan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Nabi Musa ‘alaihissalam bukanlah pembawa agama Yahudi dan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam bukan pula pembawa agama Nashrani (Kristen). Kedua agama tersebut, yaitu agama Yahudi dan Nashrani, bukanlah agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapi merupakan agama batil sebagai bentuk penyelewengan dari agama Islam, yang dihubungkan kepada kedua nabi tersebut, dari orang-orang yang mengaku sebagai pengikut-pengikut mereka.

   Dari pengertian-pengertian di atas maka kita bisa kemukakan bahwa definisi “Tujuan Pendidikan Islam” adalah tujuan atau capaian atau maksud dari pembinaan dan pengembangan jasmani dan jiwa manusia yang berdasarkan satu-satunya agama yang Allah turunkan kepada para nabi. Atau dengan kata lain, “tujuan pendidikan Islam” adalah tujuan pendidikan yang berdasarkan Islam.

Berlanjut……..

baca juga : Pendidikan Islam bagian terakhir

Bagikan dengan :
Posted in Kajian Umum.

One Comment

  1. Pingback: Tujuan Pendidikan Islam (Page 1) » Selamat Datang di Website YARSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *