Merealisasikan Tauhid

Merealisasikan Tauhid

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata,

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperjalankan pada waktu malam yang berakhir di Sidratul Muntaha, beliau diberi tiga perkara: Diberi shalat lima waktu, penutup Surat Al-Baqarah, dan diampuninya dosa-dosa besar bagi orang yang tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah dari umat beliau.” (HR. Muslim, no. 244)

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, dia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa melakukan kebajikan, maka dia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah, dan barangsiapa melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau Aku ampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan sesuatu pun kepada-Ku, maka Aku menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula.” (HR. Muslim, no. 2677 dan Ahmad, 5/172)

Kalimat tauhid “La ilaha illallah”, akan bermanfaat pada hari di mana seseorang mencari sesuatu yang dapat membebaskan dirinya, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah akan memilih seseorang dari umatku di hadapan semua manusia pada Hari Kiamat, lalu Dia membuka baginya 99 catatan, masing-masing catatan sepanjang mata memandang. Kemudian Dia bertanya, ‘Apakah kamu mengingkari ini sedikit pun? Apakah para pencatatku terpercaya telah zhalim kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’ Allah bertanya, ‘Apakah kamu memiliki udzur (alasan)?’ Dia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’ Lalu Allah mengatakan, ‘Ya, kamu memiliki kebajikan di sisi-Ku. Sesungguhnya tidak ada kezhaliman terhadapmu hari ini.’ Lalu dikeluarkanlah sebuah kartu yang padanya tertulis: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluh. Lalu Allah mengatakan, ‘Hadirilah timbanganmu.’ Orang itu mengatakan, ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan catatan-catatan ini?’ Allah menjawab, ‘Kamu tidak akan dizhalimi.’ Lalu diletakkanlah catatan-catatan tersebut di sisi timbangan dan kartu tersebut di sisi lainnya, ternyata catatan-catatan itu lebih ringan dan kartu itu lebih berat. Karena tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada Nama Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2639; Ahmad, 2/213; dan Ibnu Majah, 4300)

Realisasi tauhid dan menjauhi segala yang dapat merusaknya adalah salah satu perkara yang dapat mengantarkan seorang hamba –dengan seizin Allah- untuk merealisasikan kedudukan tersebut.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Diampuni bagi ahli tauhid sejati yang tidak mencampur tauhid tersebut dengan kesyirikan apa yang tidak diampuni bagi orang yang tidak demikian. Sekiranya orang yang bertauhid yang mana dia sama sekali tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah bertemu Rabbnya dengan membawa dosa sepenuh bumi, maka Dia akan memberikan ampunan sepenuh itu pula. Ini tidak berlaku bagi orang yang tauhidnya kurang (tidak sempurna), sebab tauhid murni yang tidak tercemar oleh syirik, tidak ada suatu dosa yang tetap bersamanya; karena tauhid mencakup cinta kepada Allah dan pengagungan kepada-Nya, rasa takut dan pengharapan kepada-Nya semata yang mengharuskan terhapusnya dosa-dosa, meskipun sepenuh bumi, sebab najis adalah perintang sedangkan pengusirnya lebih kuat.” (Fath al-Majid, hal. 44)

Mungkin sebagian di antara kita bertanya-tanya: Apakah tauhid itu? Dan mengapa jauh dari syirik mempunyai kedudukan seperti ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, al-Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa penafian secara umum terhadap kesyirikan –yakni tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah sama sekali- tidak akan muncul dari orang yang tetap meneruskan kemaksiatan selamanya. Tidak mungkin orang yang senantiasa melakukan dosa besar dan terus-menerus melakukan dosa kecil tauhidnya murni, sehingga dia tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah. Ini termasuk sesuatu yang paling mustahil. Dan jangan perhatikan orang yang suka mendebat yang sama sekali tidak memiliki amalan-amalan hati, bahkan hatinya seperti batu atau lebih keras lagi, yang mengatakan, ‘Apa penghalangnya? Apa kemustahilannya? Seandainya benar-benar ditentukan demikian, maka tidak ada kemustahilan sama sekali.’ Biarkan hati yang terfitnah ini dengan bantahannya dan kebodohannya.

Ketahuilah bahwa tetap meneruskan kemaksiatan berarti mengharuskan rasa takutnya hati kepada selain Allah, pengharapannya kepada selain Allah, rasa cintanya kepada selain Allah, ketundukannya kepada selain Allah, dan tawakalnya kepada selain Allah, yang menjadikannya tenggelam dalam lautan syirik. Dan pemutus dalam hal ini ialah apa yang diketahui manusia dari dirinya, jika dia memiliki akal; sebab ketundukan kepada maksiat pasti dilakukan dengan hati sehingga mewariskan padanya rasa takut kepada selain Allah, dan itu adalah syirik, mewariskan baginya rasa cinta kepada selain Allah, dan memohon pertolongan kepada selain-Nya dari faktor-faktor yang mengantarkannya kepada tujuannya. Jadi amalnya bukan demi Allah dan bukan karena Allah, dan inilah hakikat syirik. Memang benar, boleh jadi dia memiliki tauhid Abu Jahal dan para penyembah berhala, yaitu tauhid rububiyah, yakni pengakuan bahwa tidak ada Pencipta selain Allah. Seandainya tauhid rububiyah ini saja dapat menyelamatkan, niscaya para penyembah berhala akan selamat. Masalahnya terletak pada tauhid uluhiyah yang membedakan antara kaum musyrikin dengan kaum yang bertauhid. Maksudnya bahwa orang yang tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah mustahil akan bertemu Allah dengan membawa dosa sepenuh bumi dalam keadaan tetap meneruskan kesalahan-kesalahannya, tanpa bertaubat darinya, sekaligus membawa kesempurnaan tauhidnya yang merupakan puncak kecintaan, ketundukan, kepatuhan, rasa takut dan harap kepada Allah Ta’ala.” (Madarij as-Salikin, 1/354-355)

Realisasi tauhid mencetak perilaku Muslim yang memiliki jiwa yang menolak dan tidak menerima kemaksiatan. Dia merasa bahwa rasa cintanya kepada Tuhannya, ketundukannya dan kebutuhannya kepada-Nya ‘Azza wa Jalla menghalanginya untuk melanggar larangan-larangan-Nya dan melampaui batasan-batasan-Nya. Tatkala dia melakukan sedikit dari hal itu, maka tak lama setelah itu ia akan bengkit dan sadar.

Sebagian orang membayangkan dan berlebihan dalam memahaminya sehingga dia menyangka bahwa nash-nash tersebut menyatakan kebebasan baginya, dan bahwa dia mendapatkan jaminan pengampunan dan pemaafan selama kedua telapak kakinya tidak mengantarkannya untuk “berthawaf” mengelilingi kuburan dan dahinya tidak bersujud kepada selain Allah. Pemahaman ini jauh dari kebenaran dan tidak mengandung kebenaran sedikit pun.

Jika benar demikian, lalu apa maksud bahwa ahli tauhid akan disiksa di neraka menurut kadar amal perbuatan mereka, padahal mereka mengatakan “La Ilaha Illallah” dan tidak menyekutukan Allah? Ini tidak lain berarti bahwa pengertian tauhid dan realisasinya serta menafikan syirik itu lebih jauh dan lebih mendalam dari sekedar pandangan pendek yang dilihat oleh mereka.

Pengertian yang dipahami orang tentang tauhid dan syirik tidak lebih baik keadaannya dari pengertian dan istilah-istilah syar’i lainnya yang tertutupi oleh kabut dan karat serta dikuasai oleh pemahaman-pemahaman manusiawi dan hawa nafsu.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Kita tidak mengatakan bahwa tidak akan masuk neraka seorang pun dari ahli tauhid, tetapi banyak dari mereka masuk neraka karena dosa-dosanya dan disiksa menurut kadar perbuatan buruknya, kemudian akan dikeluarkan darinya. Tidak ada kontradiksi di antara kedua perkara tersebut bagi orang yang mengetahui apa yang telah kami kemukakan tadi.” (Ibid, 1/358)

Jika Anda mengetahui hal itu, wahai saudaraku yang mulia, maka hendaklah Anda mengumumkan berpisah dan tidak rujuk lagi dengan pemahaman-pemahaman yang kaku yang memberikan gambaran kepada si empunya pemahaman tersebut bahwa mereka terbebas dari syirik dan merealisasikan tauhid hanya sekedar menjauhi simbol-simbol tertentu atau menghafal ungkapan-ungkapan tertentu, bahkan hanya sekedar karena dilahirkan di negeri tauhid dan nasabnya bersambung serta tidak terputus dengan ahli tauhid?!

Dengan Anda mengetahui kebutuhan Anda yang mendesak untuk merealisasikan tauhid di dalam hati dan senantiasa mengoreksinya, Anda akan mengetahui bahwa tauhid itu bertingkat-tingkat, berfase-fase, dan berderajat-derajat yang berbeda-beda. Karena itu, Anda harus berusaha mendakinya dan berlomba.

Al-Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa cahaya La ilaha Illallah akan menguak kabut dosa, tergantung kuat atau lemahnya cahaya tersebut, sebab kalimat tersebut memiliki cahaya. Ahli tauhid berbeda-beda dalam hal kuat dan lemahnya cahaya tersebut yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Sebagian orang ada yang cahaya kalimat tersebut dalam hatinya seperti matahari. Ada orang yang cahaya kalimat tersebut dalam hatinya seperti bintang yang bersinar terang. Ada orang yang cahaya kalimat itu dalam hatinya seperti api unggun yang besar. Yang lainnya seperti pelita yang terang, dan yang lainnya lagi seperti pelita yang lemah cahayanya. Karenanya, cahaya-cahaya tersebut akan nampak pada Hari Kiamat di kanan kiri mereka dan di hadapan mereka berdasarkan kadar tersebut, tergantung cahaya kalimat tersebut yang terdapat dalam hati mereka, baik dalam bentuk ilmu, amal, ma’rifat, maupun kondisi.” (Ibid, 1/358)

Karena ahli tauhid itu bertingkat-tingkat dan berbeda-beda sedemikian rupa, maka hasil dan buah tauhid ini di dunia dan di akhirat juga berbeda-beda pula.

Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan pengaruh hal itu, “Semakin cahaya kalimat ini besar dan kuat, maka ia membakar syubhat dan syahwat menurut kekuatannya. Bahkan adakalanya ia mencapai keadaan di mana syubhat, syahwat dan dosa yang bertabrakan dengannya pasti terbakar. Inilah keadaan orang yang benar dalam tauhidnya, yang tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah. Dosa, syahwat atau syubhat yang mendekati cahaya ini pasti akan terbakar. Langit keimanannya telah dijaga dengan bintang-bintang dari semua pencuri kebajikannya. Pencuri tidak akan bisa mengambilnya, kecuali saat lengah dan lalai yang memang hal itu bersifat manusiawi. Jika dia sadar dan mengetahui apa yang telah dicuri darinya, maka dia merampasnya kembali dari pencurinya atau berusaha berkali lipat dengan mencarinya. Dia senantiasa demikian menghadapi para pencuri, baik dari kalangan jin maupun manusia, bukan seperti orang yang sengaja membuka pintu perbendaharaannya untuk mereka dan punggungnya berpaling dari pintu.” (ibid, 1/358)

Karena itu, marilah kita umumkan, wahai saudaraku yang mulia, untuk merealisasikan tauhid dalam hati kita dan memenuhinya dengan kecintaan kepada Allah dan mengagungkan-Nya, serta membebaskan diri dari ketergantungan dengan selain-Nya dan menghadapkan diri kepada selain-Nya.

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.