Mengasah Diri Dengan Ibadah

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum​​ Warrohmatullohi​​ Wabarokatuh.

Alhamdulillahi​​ rabbil’aalamiin,​​ wash-sholaatu​​ wassalaamu​​ ‘ala​​ asyrofil​​ anbiyaa​​ i​​ walmursaliin,​​ wa’alaa​​ alihi​​ washohbihii​​ ajma’iin​​ ammaba’adu.

Sahabat​​ da’wah​​ yang​​ di​​ rahmati Allah​​ Subhanahu​​ Wa​​ Ta’ala..

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“dan tidaklah jin dan manusia aku ciptakan kecuali agar mereka beribadah (kepada-Ku)” (Q.S. Adzariyat:56)

 Ayat diatas menggambarkan bahwa tujuan penciptaan manusia tiada lain adalah agar ia mampu beribadah dan mengesakan Alloh Ta’ala. Tentunya ibadah disini tidak hanya sebatas pada tatanan jasmani saja, akan tetapi harus mencakup seluruh unsur yang ada pada diri manusia baik itu jasmani, akal maupun ruh.

Seorang Muslim sejati tidak lupa bahwa pada saat dia membangun jasad dan akalnya, dia sadar bahwa dirinya tidak hanya terdiri dari badan dan akal semata, akan tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai hati yang berdetak dan ruh yang hidup, jiwa yang peka dan rasa rindu yang mendorong kepada peningkatan diri pada dunia ibadah, mencari kenikmatan di sisi Allah Ta’ala dan takut atas adzab dan siksanya.

Dari sini maka sudah seharusnya bagi seorang muslim memperhatikan ruhnya, ia mengasahnya dengan ibadah dan selalu ingat kepada Allah Ta’ala di waktu malam dan siang, dimana ia selalu sadar dan ingat serta waspada akan godaan setan yang menipu dan mengganggunya hingga bisa menyesatkan. Apabila ia merasa digoda oleh setan dikala berada dalam kondisi lemah, maka ia akan tersentak lalu bangun dan sadar serta bertaubat dan beristighfar. Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Q.S. Al-A’raf : 201)

Oleh karena itu, Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam berkata pada para sahabatnya :

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Perbaharuilah iman kalian.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Beliau berkata, “Perbanyaklah mengucapkan laa ilaaha illallah.” (HR. Ahmad)

Seorang muslim memperkuat ruhnya dan memperbaiki jiwanya dengan melakukan banyak ibadah, ia melakukannya karena taat kepada Allah Aza Wajalla, merendahkan diri dan patuh kepada-Nya, seperti membaca al-Qur’an dengan tenang, tadabbur dan menghayati, berdzikir dengan merendahkan diri kepada Allah Ta’ala, shalat yang sempurna dengan memenuhi syarat-syarat sahnya disertai dengan khusyuk yang maksimal, serta ibadah-ibadah lain yang dapat memengaruhi ruhiyyah diri seorang muslim. Membiasakan diri melakukan ketaatan-ketaatan tersebut pastinya akan melahirkan habit dan keengganan untuk meninggalkanya dalam kehidupannya. Demikian pula, hatinya akan menjadi lembut, perasaannya menjadi halus, panca inderanya siaga, dan setiap saat ia selalu ingat dan sadar, ingat bahwa ia diawasi Allah Ta’ala baik di waktu sepi maupun ramai, selalu takut kepada Allah Aza Wajalla dalam berinteraksi dengan orang lain, tidak berbuat zhalim, tidak menyimpang dari kebenaran dan tidak menyimpang dari jalan yang lurus.

Untuk mencapai martabat yang tinggi ini, seorang muslim juga harus berusaha berteman dengan orang-orang shaleh, dimana ia bisa saling wasiat-mewasiati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S Al. Ashr 1-3)

Mereka juga sering mendatangi majelis-majelis ilmu, tempat orang-orang berdzikir dan membahas tentang ayat-ayat Alloh dan sabda Rosul-Nya yang menjadi sumber rujukan utama dalam dinul Islam serta bagaimana keagungannya dalam mendidik pribadi, keluarga dan masyarakat. Orang-orang yang hadir di sana tentunya membahas keagungan Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Kuasa yang tidak ada sekutu dan yang mampu melemahkan-Nya sesuatu pun baik di bumi dan di langit. Mereka memaparkan keagungan ciptaan dan indahnya ciptaan Allah Ta’ala di alam semesta, di majelis-majelis ini ruh akan menjadi suci, jiwa diasah dan hati akan menjadi jernih serta diri manusia dipenuhi dengan sinar keimanan.

Oleh karena itulah, Abdullah bin Rawahah Rodhiallou anhu apabila bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Shollalhu alahi wasallam berkata, “Mari, kita memperbaharui keimanan kepada Rabb kita sesaat.” Hal itu sampai kepada Nabi Shollallohu alaii wasallam , beliau pun berkata, “Semoga Allah Ta’ala merahmati Ibnu Rawahah, ia senang kepada majelis-majelis yang dibanggakan oleh malaikat.” (HR. Ahmad)

Seorang muslim bertanggung jawab untuk menguatkan ruhnya, mensucikan jiwanya dan selalu mendorongnya untuk mencapai martabat yang lebih tinggi, dan menjaganya agar tidak menurun ke bawah.

وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7-10)

Dari sini seorang muslim dituntut untuk mencari teman yang baik dan lingkungan yang tidak menambahnya, kecuali dengan keimanan, kebaikan dan ketakwaan, serta meninggalkan teman-teman buruk, yaitu setan-setan manusia dan menjauh dari tempat-tempat maksiat yang menggelapkan jiwa dan mengotori hati.

وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)

Di antara hal yang bisa membantu seorang muslim menguatkan ruhiyahnya dan mengikat hatinya dengan Allah adalah selalu membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam dalam setiap amal perbuatannya, yaitu doa berupa dzikir dari Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam. Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam mengajarkan doa keluar dari rumah, doa masuk rumah, doa melepas kepergian orang musafir, doa menyambut kedatangannya, doa memakai baju baru, doa berbaring di tempat tidur, doa bangun dari tidur dan doa-doa lainnya dari bangun tidur sampai tidur, sebagaimana dahulu Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam tidak melakukan sesuatu atau beraktivitas kecuali ada doanya. Beliau bermunajat kepada Allah Ta’ala agar diilhami kebenaran dan dijauhkan dari keteledoran, mengasihinya, dan menunjukkannya kepada kebaikan sebagaimana disebutkan dengan lengkap dalam hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam. Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam mengajarkan para sahabat rodhiallohu anhum dzikir-dzikir tersebut dan menganjurkan mereka membacanya pada waktunya masing-masing.

Seorang muslim yang bertakwa akan senantiasa berusaha mempelajari dan mengamalkan lafazh-lafazh doa yang indah tersebut, mencontoh Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam dan para sahabatnya, tekun membacanya pada waktu yang telah ditentukan sedapat mungkin. Dengan demikian, hatinya tetap ada hubungan dengan Allah Ta’ala, jiwanya suci, ruhnya tinggi dan perasaannya halus.

Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam menempa ruhiyah generasi pertama yaitu para sahabat dengan latihan ini dan mensucikan jiwa mereka, sehingga bersinar dengan terang, tidak kotor dan tidak keruh. Dengan demikian terwujudlah mukjizat Islam yang agung dalam mencetak generasi terbaik dalam kehidupan manusia yang membuat keajaiban dalam tempo yang singkat.

Mudah-mudah kita semua mampu meneladani bagaimana para salaf terdahulu mereka berusaha meneladani dan menjalankan perintah dan anjuran Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam sehingga kita semua menjadi generasi terbaik selanjutnya di akhir zaman ini.

Wallohu alam bis showab

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.