Macam-macam Nadzar dan Hukumnya

Macam-macam Nadzar dan Hukumnya

Nadzar yang biasa dilakukan kaum muslimin dilihat dari objek nadzar terbagi menjadi dua macam:

  1. Nadzar dengan ketaatan kepada Allah (nadzar ketaatan)

Maksudnya, seseorang mewajibkan dirinya, entah untuk melakukan perkara yang dianjurkan oleh syariat, seperti shalat sunnah, puasa, haji, sedekah, i’tikaf dan berbagi bentuk ketaatan lainnya, atau untuk melakukan kewajiban dengan mengaitkannya dengan sifat tertentu, misalnya bernadzar untuk melaksanakan shalat di awal waktu, dan lain sebagainya.

Adapun bernadzar melakukan kewajiban, seperti halnya shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan kewajiban-kewajiban lain, nadzar tersebut tidak memiliki pengaruh, karena kewajiban yang dibebankan Allah lebih agung daripada kewajiban yang dibebankan oleh nadzar.

Telah disampaikan sebelumnya, bahwa ada dua bentuk nadzar ketaatan; nadzar tanpa dikaintkan dengan manfaat bagi pelakunya (nadzar mutlak), nadzar jenis ini dianjurkan untuk dilakukan.

Bentuk kedua, nadzar terkait manfaat bagi pelakunya, diucapkan dalam konteks meminta imbalan dan mengaitkan ibadah dengan terwujudnya tujuan. Nadzar jenis ini dilarang dilakukan.

a. Hukum memenuhi nadzar ketaatan

Nadzar ketaatan dengan dua jenisnya; mutlak dan terikat, wajib dipenuhi oleh pelakunya berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’. (Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah [32/87-33/36]). Sebagian dalil telah disampaikan di awal tentang hal tersebut. Selain itu ada dalil lainnya yaitu:

(1) Firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ لْیَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَ لْیُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al-Hajj [22]: 29)

Ini adalah perintah untuk memenuhi nadzar, dan perintah itu bermakna wajib.

(2) Allah Ta’ala mencela orang-orang yang bernadzar namun tidak memenuhinya. Firman Allah Ta’ala,

(۷۵) وَ مِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِیْنَ

(۷۶) فَلَمَّاۤ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَ تَوَلَّوْا وَّ هُمْ مُّعْرِضُوْنَ

فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِیْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى یَوْمِ یَلْقَوْنَهٗ بِمَاۤ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَ بِمَا كَانُوْا یَكْذِبُوْنَ (۷۷)

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh.” Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya , mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran). Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah [9]: 75-77)

(3) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa bernadzar untuk taat kepada Allah maka hendaklah ia menaati-Nya.” (Shahih, telah ditakhrij sebelumnya)

(4) Diriwayatkan dari Umar, ia berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Aku pernah bernadzar pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf pada malam hari di Masjidil Haram.” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Penuhilah nadzarmu itu.” (HR. Al-Bukhari [2042], Muslim [1656])

(5) Telah disampaikan sebelumnya hadits riwayat Imran bin Hushain tentang celaan terhadap kaum setelah masa-masa utama, disebutkan di dalamnya,

“Kemudian datang satu kaum yang bernadzar namun tidak memenuhinya.” (Shahih, telah ditakhrij sebelumnya)

b. Nadzar untuk melakukan sesuatu yang tidak kuasa dilakukan atau pelaku tidak mampu memenuhinya

Barangsiapa bernadzar melakukan ketaatan maka ia wajib memenuhinya sebagaimana telah dijelaskan di awal jika mampu melakukannya. Jika dia tidak mampu memenuhinya, atau perbuatan yang dinadzarkan memang di luar kemampuannya, maka dia tidak wajib memenuhi nadzar. Dalam hal ini ada beberapa hadits yaitu:

(1) Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat seorang laki-laki sedang dipapah oleh dua orang. Beliau bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Dia bernadzar untuk berjalan ke Baitullah.” Beliau pun bersabda,

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak memerluka tindakan orang ini dalam menyiksa dirinya sendiri.”

Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar orang itu menaiki kendaraan, maka dia pun melaksanakan perintah beliau. (HR. Al-Bukhari [1865], Muslim [1656])

(2) Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu, bahwasanya saudara perempuannya bernadzar untuk berjalan ke Masjidil Haram (di Mekah) dengan berjalan kaki dan tidak memakai kerudung, Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Suruhlah saudara perempuanmu untuk naik kendaraan, memakai kerudung, dan berpuasa tiga hari.” (Sanadnya lemah. HR. At-Tirmidzi [1544], An-Nasa’i [3815], Ibnu Majah [2134], Ad-Darimi [2334], Ahmad [16668, 16709, 1673], dari jalur Abdullah bin Malik, dari Uqbah bin Amir. Di dalam sanadnya ada Ubaidullah bin Zahar, di dalam riwayatnya ada kelemahan. Juga diriwayatkan Ath-Thabrani [17/324], dari Abu Tamim Al-Jaisyani, dari Uqbah, namun sanadnya lemah)

Menurut riwayat Ibnu Abbas terkait kisah yang sama,

“Suruh dia untuk berkendara dan hendaklah dia menunaikan kafarat (sumpahnya).” (Sanadnya lemah. HR. Abu Dawud [3295], Ahmad [2685], Ibnu Khuzaimah [3046-3047], Ibnu Hibban [4384], dari jalur Syarik, dari Muhammad bin Abdurrahman, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, menurut sebagian riwayat, “Dia menunaikan kafarat untuk sumpahnya.”)

Menurut riwayat yang lain, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk naik kendaraan dan menyembelih kurban.” (Sanadnya shahih. HR. Abu Dawud [3296, 3303], Ad-Darimi [2335], Ahmad [2027, 2032, 2165, 2691, 1712], Ibnu Khuzaimah [3045], Al-Baihaqi [10/79], Ath-Thabrani [11/308], dari berbagai jalur yang saling menguatkan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Akan tetapi Al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Fath Al-Bari [11/589] dari Al-Bukhari, ia berkata, “Tentang kurban itu tidak shahih.”)

Menurut riwayat yang lain,

“Hendaklah dia berkendara dan berkurban seekor unta.” (Lihat sebelumnya)

Menurut riwayat lain tidak disebutkan kurban dan kafarat. (HR. Abu Dawud [3304], Al-Baihaqi [10/79], Ath-Thabrani, Al-Ausath [9380], Ahmad [6653], dan perawi lain)

(3) Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Kafarat untuk nadzar adalah kafarat untuk sumpah.” (HR. Muslim [1645], At-Tirmidzi [1528], An-Nasa’i [3832])

Merujuk hadits-hadits ini juga hadits lain, para ulama berbeda pendapat tentang apa yang harus dilakukan orang yang menadzarkan perbuatan yang tidak sanggup dia lakukan, jika dia tidak mampu memenuhi sumpahnya. Misalnya, dia bernadzar untuk menunaikan haji dengan berjalan kaki, lalu dia tidak mampu melakukannya. Dalam hal ini ada beberapa pendapat: (Fath Al-Qadir [3/173], Al-Majmu’ [8/494], Al-Mughni [10/74], Al-Inshaf [11/149]. Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi [1/458], Jami’ Al-Ulum Wa Al-Hikam hal 309-310, cetakan Al-Ma’rifah, Majmu’ Al-Fatawa [35/327])

Pertama, tidak ada kewajiban apa pun.

Hal ini berdasarkan zhahir dari firman Allah Ta’ala,

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Begitu juga firman Allah Ta’ala,

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun [64]: 16)

Firman Allah Ta’ala,

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ

“Ya Tuan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Apabila aku perintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.” (HR. Al-Bukhari [7288], Muslim [1337])

Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan satu riwayat dari Ahmad dan Al-Auza’i.

Kedua, wajib menunaikan kafarat sumpah.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Uqbah bin Amir tersebut di atas. Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Uqbah terkait saudara perempuannya,

“Suruh dia untuk berkendara dan hendaklah dia menunaikan kafarat (sumpahnya).”

Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Tsauri, serta menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Ketiga, kewajiban orang itu adalah puasa tiga hari. Ini adalah satu riwayat dari Ahmad.

Keempat, kewajiban orang tersebut adalah menyembelih unta. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i.

Kelima, kewajibannya adalah menyembelih kurban. Ini adalah pendapat yang lebih shahih di kalangan ulama madzhab Syafi’i, merupakan satu riwayat dari Imam Ahmad, sekaligus perkataan ulama madzhab Hanafi dan Al-Laits.

Para pengusung tiga pendapat terakhir bersandar kepada riwayar-riwayat terkait kisah saudara perempuan Uqbah bin Amir.

Keenam, tidak sah nadzarnya jika hanya berkendaraan. Orang itu harus menunaikan haji tahun depan, dia berjalan di tempat sebelumnya berkendaraan dan berkendaraan di tempat sebelumnya berjalan. Dia juga harus menyembelih seekor domba. Ini adalah pendapat Imam Malik.

Pendapat yang kuat

Pendapat yang kuat menurut saya (Abu Malik), setelah mengkaji sanad hadits-hadits tersebut, bahwa riwayat yang paling kuat dari segi sanad adalah riwayat yang menerangkan kafarat berupa menyembelih kurban berupa unta atau hewan kurban lainnya, kemudian riwayat tentang berpuasa tiga hari. Selanjutnya, terlihat oleh saya bahwa yang lebih kuat dari segi pemahaman adalah kewajiban kafarat sumpah, berdasarkan beberapa hal berikut:

  1. Riwayat tentang berkurban dengan unta atau hewan kurban lainnya yang paling kuat dari sisi sanad bisa dinyatakan cacat oleh penjelasan Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari (11/589), bahwa At-Tirmidzi menukil dari Al-Bukhari, bahwa ia berkata, “Tidak shahih disebutkannya hewan kurban di dalam hadits riwayat Uqbah bin Amir.” Demikian juga yang dinukil oleh Al-Baihaqi (10/80).
  2. Riwayat puasa tidak bertentangan dengan riwayat yang menyatakan, “Hendaklah dia menunaikan kafarat.” Dan riwayat, “Hendaklah ia menunaikan kafarat sumpahnya.” Sebab, puasa tiga hari adalah salah satu pilihan kafarat sumpah, sebagaimana dijelaskan di awal.
  3. Pendapat inilah yang sesuai dengan hadits riwayat Uqbah bin Amir itu sendiri yaitu yang memintakan fatwa untuk saudaranya di dalam kitab shahih, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kafarat nadzar adalah kafarat sumpah.” (Shahih. Telah ditakhrij sebelumnya). Bisa jadi, Uqbah meringkas fatwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terkait kondisi saudara perempuannya.
  4. Berjalan kaki tidak termasuk hal yang diwajibkan di dalam ihram, maka tidak wajib menyembelih kurban jika seseorang tidak berjalan kaki.
  5. Pendapat bahwa yang wajib adalah kafarat sumpah merupakan pendapat yang pasti benar bila nadzar tidak terkait ibadah haji. Tidak bisa digambarkan bahwa setiap orang yang bernadzar, tetapi tidak mampu memenuhi nadzarnya, dia harus menyembelih unta sebagai kafarat. Wallahu A’lam.

Kesimpulan

Barangsiapa bernadzar melakukan sebuah ketaatan kemudian dia tidak sanggup memenuhi nadzar, dia tidak wajib memenuhinya namun dia wajib menunaikan kafarat sumpah untuk nadzarnya.

c. Tidak sah nadzar seseorang untuk bertaqarrub dengan apa yang bukan miliknya

Di dalam hadits riwayat Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu, terkait kisah perempuan Anshar yang tertawan, disebutkan, “Dan dia bernadzar untuk Allah jika Allah menyelamatkan dirinya, bahwa dia akan menyembelih Adhba’, unta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Begitu perempuan tersebut tiba di Madinah dan orang-orang melihatnya, mereka berkata, Adhba’ adalah unta milik Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Dia mengatakan bahwa dirinya telah bernadzar, jika Allah menyelamatkannya, untuk menyembelih unta Adhba’. Orang-orang pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakan hal tersebut kepada beliau. Beliau bersabda,

“Subhanallah (Mahasuci Allah), sungguh buruk balasan yang dia berikan. Dia bernadzar kepada Allah, jika Allah menyelamatkan dirinya, maka dia akan menyembelih Adhba’. Tidak boleh memenuhi nadzar berupa kemaksiatan atau nadzar terkait apa yang tidak dimiliki seorang hamba.” (HR. Muslim [1641], Abu Dawud [3316], An-Nasa’i [7/19], Ibnu Majah [2124], dan perawi lainnya)

Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak sah nadzar anak Adam terkait apa yang tidak dimilikinya.” (HR. At-Tirmidzi [1181], Abu Dawud [2190], Ibnu Majah [2047], dan perawi lainnya)

Apakah dia wajib menunaikan kafarat? Ada dua pendapat dalam hal ini, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak wajib. Wallahu A’lam.

d. Bernadzar untuk menyedekahkan seluruh harta

Barangsiapa bernadzar untuk menyedekahkan seluruh hartanya, guna disalurkan di jalan Allah, maka ada sepuluh madzhab ulama terkait hal ini. Kebanyakan pendapat tidak didukung dalil, hanya ada tiga yang bersandar kepada dalil yaitu: (Al-Mughni [10/72], Kasysyaf Al-Qina’ [6/279])

Pertama, wajib menyedekahkan seluruh hartanya.

Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i, An-Nakha’i dan Abu Hanifah (jika berupa harta yang wajib dizakati). Hujjah pendapat ini adalah dalil-dalil tersebut di atas terkait kewajiban memenuhi nadzar ketaatan, misalnya sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Barangsiapa bernadzar untuk taat kepada Allah maka hendaklah dia menaati-Nya.” (Shahih. Telah ditakhrij sebelumnya)

Pendapat ini juga diperkuat oleh sebuah riwayat, bahwa Abu bakar Radhiyallahu Anhu pernah menyedekahkan seluruh hartanya, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menerimanya. (HR. Abu Dawud [1678], At-Tirmidzi [3675], Ad-Darimi [1660])

Kedua, cukup menyedekahkan sepertiga harta. Ini adalah pendapat Imam Malik, Ahmad sesuai riwayat yang masyhur darinya, Al-Laits dan Az-Zuhri.

Hujjah mereka adalah hadits riwayat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu, terkait kisah diterimanya taubat tiga orang yang tidak ikut berperang, di akhir hadits disebutkan bahwa Ka’ab berkata, “Wahai Rasulullah, di antara bentuk taubatku adalah meninggalkan harta untuk disedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tahan sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.” (HR. Al-Bukhari [2758], Muslim [2769])

Menurut riwayat yang lain, “Di antara bentuk taubatku adalah mengeluarkan hartaku seluruhnya sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Tidak.” Aku (Ka’ab) berkata, “Setengahnya.” Beliau bersabda, “Tidak.” Aku berkata, “Sepertiganya.” Beliau menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Aku akan menahan bagianku yang menjadi kebaikan untukku.” (Sanadnya hasan, HR. Abu Dawud [3331])

Zhahir hadits menyatakan bahwa Ka’ab ingin melepaskan diri dari seluruh hartanya dalam bentuk nadzar dan taubat tanpa meminta pendapat terlebih dahulu. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepadanya untuk menahan sebagian hartanya dan mengatakan dengan tegas bahwa itulah yang lebih baik.

Bantahan untuk dalil ini, (Ibnu Daqiq Al-Id, Ihkam Al-Ahkam [2/372]) bahwa lafazh yang disampaikan oleh Ka’ab bin Malik bukan berupa pelaksanaan sedekah, sehingga berkesesuaian dengan perbedaan pendapat di sini, melainkan lafazh berupa niat untuk melakukan sesuatu terkait niat itu, dan sesuatu itu tidak terjadi. Oleh karenanya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyarankan agar ia tidak melakukannya dan ia menahan sebagian hartanya. Yang demikian itu sebelum ia benar-benar melakukan niatnya. Demikianlah zhahir lafazh yang ada. Bagaimanapun juga, pengambilan dalil dari riwayat tersebut terkait masalah ini dianggap lemah.

Bantahan ini juga dijawab (Asy-Syinqithi, Adhwa’ Al-Bayan [5/7685]) oleh pihak yang menyatakan pendapatnya, bahwa zhahir lafazh riwayat di atas menunjukkan bahwa Ka’ab menyatakan serius, bukan meminta pendapat. Karena ungkapan Ka’ab dimulai dengan kalimat berita yang ditegaskan dengan huruf taukid (penegas), yaitu inna, dalam perkataannya, “Inna min taubati” (Di antara bentuk taubatku).” Ungkapan dengan karakter seperti ini tidak mungkin dipahami sebagai permintaan pendapat.

Ulama yang berpendapat demikian menyatakan, yang lebih menguatkan lagi ialah, bahwasanya ketika Allah Ta’ala menerima taubat Abu Lubabah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, di antara bentuk taubatku adalah meninggalkan kampung kaumku dan tinggal di dekatmu, juga meninggalkan hartaku sebagai sedekah bagi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak, cukup bagimu (untuk menyedekahkan) sepertiga (darinya).” (Ada Ada perbedaan pendapat terkait sanadnya, HR. Abu Dawud [3319], Ahmad [3/452, 502], Malik [1039], Ath-Thabrani [5/33], Ad-Darimi [1658], Al-Baihaqi [10/68], Al-Hakim [3/7333]. Ada perbedaan pendapat sangat keras terkait Az Zuhri)

Ketiga, tidak ada kewajiban apa pun. Ini merupakan riwayat dari Imam Abu Hanifah (selain terkait harta yang dizakati), Abu Muhammad bin Hazm (bila diucapkan dalam bentuk sumpah), dengan landasan bahwa sedekah dengan seluruh harta tidak disyariatkan. Imam Abu Hanifah mengambil dalil sebagai berikut:

(1) Firman Allah Ta’ala,

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra’ [17]: 26)

(2) Firman Allah Ta’ala,

وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

“Dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am [6]: 141)

Imam Abu Hanifah menyatakan, “Allah mencela dan tidak menyukai orang yang menyedekahkan seluruh hartanya.”

(3) Hadits riwayat Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Ketika itu kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki membawa emas dengan bentuk mirip telur, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendapatkan ini di antara barang tambang. Silahkan ambil, itu menjadi sedekah, aku tidak memiliki harta lain selain ini.” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berulang kali berpaling dari orang itu, namun dia tetap mengulangi perkataannya. Akhirnya Nabi Shallallhu Alaihi wa Sallam mengambilnya dan melemparkannya ke orang itu. Sekiranya mengenai tubuhnya tentu dia merasa sakit atau melukainya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Seseorang di antara kalian datang membawa harta miliknya seraya berkata, ‘Ini sedekah.’ Kemudian dia duduk dan meminta-minta kepada orang-orang. Sebaik-baik sedekah adalah dari harta yang tidak diperlukan.” (Sanadnya lemah. HR. Abu Dawud [1673], Ad-Darimi [1659], Abdu bin Humaid [1121], Abu Ya’la [2084], Ibnu Hibban [3372], di dalam sanadnya ada ‘an’anah yang dilakukan Ibnu Ishaq, dan dia seorang mudallis)

Imam Abu Hanifah menambahkan, Jika kelompok lain berhujjah dengan firman Allah Ta’ala,

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ

“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9)

Bukan berarti kaum Anshar tidak menyisakan kebutuhan hidup untuk diri mereka sendiri. Melainkan mereka adalah orang-orang yang sederhana dan lebih mengutamakan orang lain terkait bahan makanan mereka.

Pendapat yang kuat

Secara zhahir, saya (Abu Malik) melihat bahwa pendapat terakhir yang menyatakannya secara mutlak, adalah lemah, sebab menyedekahkan seluruh harta itu disyariatkan. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Radhiyallahu Anhu membawa seluruh hartanya untuk diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau menerimanya serta memuji perbuatannya. Begitu pun Umar Radhiyallahu Anhu, ia menyedekahkan separuh hartanya sehingga lebih dari sepertiga dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menerimanya. (Shahih. Telah ditakhrij sebelumnya) Jadi, secara zhahir orang yang bernadzar menyedekahkan seluruh hartanya yang mana dia dan keluarganya tidak mendapat bahaya karenanya wajib memenuhi nadzarnya itu.

Jika nadzar itu berbahaya bagi diri pelaku atau keluarganya, maka dia wajib bersedekah dengan jumlah yang tidak mendatangkan bahaya, baik sepertiga, kurang dari sepertiga atau lebih dari itu. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ

“Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Dalil lain adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak pula membahayakan orang lain.” (Shahih untuk semua jalur riwayatnya. Lihat: Al-Irwa’ [896])

Dengan kondisi inilah dalil-dalil yang menjadi landasan dua madzhab terakhir dipahami. Ini adalah perkataan Sahnun dari kalangan ulama madzhab Maliki. Wallahu A’lam.

e. Bernadzar shalat di Masjid Al-Aqsha, sah menunaikannya di Masjidil Haram

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, “Pada hari pembebasan kota Mekah seorang laki-laki berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku bernadzar bahwa jika Allah membebaskan kota Mekah untukmu aku akan menunaikan shalat dua rakaat di Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha).” Beliau bersabda, “Laksanakanlah shalat di sini.” Orang itu mengulangi perkataannya, beliau tetap bersabda, “Laksanakanlah shalat di sini.” Ia kembali mengulangi perkataannya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalau bergitu terserah kamu.” (HR. Abu Dawud [2305], Ahmad [3/363], Ad-Darimi [2339], dan perawi lain)

  • Catatan penting

Jika seseorang bernadzar melakukan perjalanan ke selain Masjidil Haram, Masjid Nabawi atau Masjidil Aqsha, tidak boleh memenuhi nadzarnya, karena merupakan nadzar maksiat dan dia wajib menunaikan kafarat sumpah, sebagaimana dijelaskan di muka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak boleh melakukan perjalanan jauh (untuk beribadah) kecuali menuju Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjid Baitul Maqdis (Al-Aqsha).” (HR. Al-Bukhari [1189], Muslim [1397])

Selanjutnya →

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *