Konsekuensi Mengimani Al-Qur’an

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum​​ Warrohmatullohi​​ Wabarokatuh.

Alhamdulillahi​​ rabbil’aalamiin,​​ wash-sholaatu​​ wassalaamu​​ ‘ala​​ asyrofil​​ anbiyaa​​ i​​ walmursaliin,​​ wa’alaa​​ alihi​​ washohbihii​​ ajma’iin​​ ammaba’adu.

Al-Qur’an al-Karim adalah kalamulloh, perkataan Robbul ‘alamin, Robb pemilik, penguasa dan pengatur seluruh alam semesta, al-Qur’an yang tiada dusta dan perselisihan didalamnya, ia merupakan standar keselamatan bagi siapa saja yang mengikutinya, berupa petunjuk dan arahan dalam mengarungi kehidupan ini. Disisi lain ia pun bisa menjadi neraca kehancuran dan keterpurukan bagi siapa saja yang berpaling dan membelakanginya, Allah berfirman :

قَالَ ٱهۡبِطَا مِنۡهَا جَمِيعَۢاۖ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

Allah berfirman : “Turunlah kalian semua dari surga, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan akan kami himpun ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. THOHA : 123-124)

Dalam tafsirnya Imam Ibnu katsir rohimahulloh mengutip perkataan Ibnu Abbas rodhiallohu anhuma tentang ayat ini :

((Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka)), berkata Ibnu Abbas rodhiallohu anhuma: “Tidak tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat kelak.”

((Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku)) maksudnya adalah menyelisihi perintah-Ku dan menyelisihi apa-apa yang telah Aku turunkan kepada para Rosul-Ku, berpaling dan melupakannya serta mengambil selain petunjuk-Ku.

((maka baginya kehidupan yang sempit)) yaitu : merasa sempit di dunia tidak ada padanya ketenangan dan kelapangan dada, bahkan dadanya sempit disebabkan karena kesesatannya, walaupun ia mendapatkan nikmat secara dzohirnya seperti memakai pakaian yang dikehendaki, makan sesukanya, dan tinggal di manapun yang ia senangi, akan tetapi hatinya tetap tidak tenang dan tidak mendapat petunjuk, ia akan senantiasa berada di dalam kebimbangan, keraguan  dan senantiasa berada di dalam keguncangan dan inilah hakikat dari kesempitan hidup))

Ketika al-Qur’an itu diturunkan untuk tujuan memberikan petunjuk dan rambu-rambu bagi kita semua di dalam mengarungi kehidupan ini, maka membaca dan mengerti tentang kandungan ayat-ayatnya adalah sebuah keniscayaan bagi kita kaum muslimin, dan hal ini tidak akan kita dapati kecuali dengan jalan mentadabburinya.

Mentadabburi al-Qur’an maksudnya adalah memahami makna lafadz-lafadznya, mengerti tujuan ayat-ayatnya, merenungi apa yang ditunjukkannya agar hati ini dapat mengambil pelajaran dan tunduk serta mengamalkan segala apa yang diperintahkannya.

Mentadabburi al-Qur’an adalah suatu yang amat penting agar kita mengerti tentang al-Islam, karena seluruh apa yang diperintah dan dilarang Allah ta’ala. termaktub di dalamnya, baik penjelasan itu secara rinci ataupun secara gelobal yang rinciannya ada di dalam sunnah Rosululloh shollallohu alihi wasallam.

Untuk itu Allah Ta’ala. berfirman :

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

 

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(QS. Shod : 29)

Berkata ath-Thobariy rohimahulloh tentang ayat ini :

((لِيَتَدَبَرُوْاحُجَجَ اللهِ الَتِي فِيْهِ , وَمَا شَرَعَ اللهُ فِيْهِ مِنَ الشَرَائِعِ, فَيَتَعَظُوْا وَ يَعْمَلُوْا بِهِ))

((hendaknya mereka mentadabburi hujjah-hujjah Allah SWT. yang terdapat di dalamnya, dan apa-apa yang telah disyari’atkan-Nya, maka hendaklah mereka mengambil pelajaran dan mengamalkan segala kandungannya))

Sesungguhnya mempelajari dan mentadabburi al-Qur’an mempunyai pengaruh/atsar yang besar kepada setiap jiwa kaum muslimin, diantaranya adalah :

  1. Mendapatkan keberkahan al-Qur’an, sebagaimana hal tersebut telah dijelaskan dalam ayat di atas
  2. Hati ini butuh akan tadabbur Qur’an, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Robb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Yunus : 57)

  1. Sesungguhnya Allah Ta’ala memuji orang-orang yang mentadabburi al-Qur’an dan merealisasikannya kemudian bertambahlah keimanan mereka, karenanya Allah Ta’ala berfirman :

 إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Robbnyalah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal: 2)

Sesungguhnya di dalam mentadabburi al-Qur’an, ada tingkatan derajat yang berbeda-beda, perhatikanlah oleh kita semua tentang tingkatan-tingkatan tersebut, agar kita bisa meraih seluruh tingkatan yang ada dan dengannya dapat mengantarkan kita meraih kebaikan hidup dan keridhoan Allah Ta’ala.

Tingkatan yang pertama : “merenungi dan dapat mengambil pelajaran darinya”

Allah Ta’ala berfirman :

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ …

“…Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian memikirkannya.” (QS. al-Baqoroh: 219)

Tingkatan yang kedua : “merealisasikan tadabbur  akan tercapai kekhusyu’an hati”

Allah Ta’ala berfirman :

قُلۡ ءَامِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ وَيَقُولُونَ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِن كَانَ وَعۡدُ رَبِّنَا لَمَفۡعُولٗا وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا

“…Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Robb kami, sesungguhnya janji Robb kami pasti dipenuhi’. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.” (QS. al-Isro : 107-109)

Tingkatan yang ketiga : “tunduk dan patuh terhadap segala perintah dan larangan yang Alloh ta’ala jelaskan di dalam al-Qur’an” dan ini adalah tujuan terbesar dari mentadabburi al-Qur’an. Alloh Ta’ala berfirman :

 وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Dan al-Quran itu adalah kitab yang kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.” (QS. al-An’am : 155)

Tingkatan yang keempat : “dapat mengeluarkan dan mengambil hukum-hukum darinya”

عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ لأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ : أَوْصِنِي ، قَالَ : ” اتَّخِذْ كِتَابَ اللَّهِ إِمَامًا ، وَارْضَ بِهِ قَاضِيًا وَحَكَمًا ، فَإِنَّهُ الَّذِي اسْتَخْلَفَ فِيكُمْ رَسُولَكُمْ ، شَفِيعٌ مُطَاعٌ ، وَشَاهِدٌ لا يُتَّهَمُ ، فِيهِ ذِكْرُكُمْ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلَكُمْ ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ ، وَخَبَرَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ

“Dari Abu al-Aliyah, ia berkata: Ada seseorang berkata kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu (seorang sahabat Nabi) : “Berilah aku wasiat !” Ubay menjawab: “Jadikan Kitabullah (Al-Quran Al-Karim) sebagai imam (yaitu petunjuk dan pedoman hidup),  dan ridhalah terhadap hukum yang diputuskan Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an-lah yang menjadikan Rasul kalian menguasai kalian. Al-Qur’an memberikan syafaat (bagi yang membaca dan mengamalkannya). Al-Qur’an adalah kitab yang ditaati dan saksi yang terpercaya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan (kemuliaan dan kejayaan) kalian dan orang-orang sebelum kalian. Al-Qur’an adalah pemutus perselisihan di antara kalian. Dan Al-Qur’an adalah kisah tentang kalian dan orang-orang sesudah kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Hilyatul Auliya’ I/253, dan Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’laamin Nubala’ I/392)

Tengoklah generasi terbaik umat ini, yaitu generasi sahabat Nabi Rodhiallohu anhum. generasi yang bangkit ruhani, peran, duniawi dan ukhrowi mereka, disebabkan karena interaksi mereka yang benar dengan al-Qur’an al-karim.

Berkata ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha :

((كَانَ أَبُوْ بَكرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رَجُلًا بُكَاءً لَا يَمْلِكُ عَيْنَيْهِ إِذَا قَرَأَ اْلقُرْآنَ))

((Abu Bakr rodhiallohu ‘anhu adalah laki-laki yang banyak menangis, yang tidak dapat menahan air matanya jika membaca al-Qur’an))

Berkata ‘Umar bin Khottob rodhiallohu ‘anhu kepada Abu Musa al-Asy’ari rodhiallohu ‘anhu :

((يَا أَبَا مُوْسَي ذَكِرْنَا رَبَنَا, فَيَقْرَأَ اْلقُرْآنَ, وَ هُمْ يَسْمَعُوْنَ وَ يَبْكُوْنَ))

((Wahai Abu Musa ingatkan kami tentang Robb kami, maka Abu Musa membaca al-Qur’an dan semua mereka mendengarkan dan mereka menangis))

Berkata Utsman bin Affan rodhiallohu ‘anhu :

((لَوْ أَنَ قُلُوْبَنَا طَهَرَتْ مَا شَبِعَتْ مِنْ كَلَامِ رَبِنَا))

((Kalau seandainya hati kita bersih dan suci maka ia tidak akan merasa cukup terhadap firman-firman Allah ta’ala.))(kitab al-Asma walshifat lil baihaqi: 524)

Demikianlah keadaan hati-hati mereka dalam bermu’amalah dengan al-Qur’an al-Karim, dan kita memohon kepada Allah agar memberikan kepada kita semua keistiqomahan di dalam membaca, mentadabburi dan mengamalkan serta mendakwahkannya, agar kita dapat meraih kebangkitan sejati sebagaimana mereka telah meraihnya.

Wallohu alam bishowab

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.