Jauhilah Faktor-faktor Penyebab Kemaksiatan

Jauhilah Faktor-faktor Penyebab Kemaksiatan

Saudaraku, kawula muda! Mungkin Anda mengetahui dari pengalaman Anda dan kehidupan pribadi Anda bahwa kemaksiatan bukan datang secara tiba-tiba, tetapi ada penyebab, pembangkit, dan pendahuluannya. Jika Anda, saudaraku yang mulia, bersungguh-sungguh membebaskan diri dari kemaksiatan dan menjauhinya, maka menutup segala pintu kemaksiatan adalah jalan pintas untuk menjauhi kemaksiatan tersebut.

Pengertian inilah yang dipahami oleh orang yang disebut sebagai manusia paling alim pada zamannya tatkala ditanya oleh seseorang yang telah membunuh 99 jiwa dan genap seratus dengan membunuh seorang ahli ibadah. Orang alim itu berkata kepada pemuda tersebut,

“Ya (kamu masih bisa bertaubat), memang siapa yang dapat menghalangimu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada orang-orang yang menyembah Allah. Sembahlah Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.” (HR. Al-Bukhari, 3470 dan Muslim, 2766)

Orang alim ini benar-benar seorang yang berilmu dan pemberi fatwa yang sesungguhnya. Dia tidak hanya memberitahukan bahwa dia bisa bertaubat, tetapi dia juga menunjukkannya kepada jalan yang mengantarkan ke sana (taubat). Orang alim ini mengetahui bahwa sekiranya orang tersebut tetap berada di negeri atau kampung halamannya, maka dia akan kembali melakukan kemaksiatan. Dia tidak mungkin terbebas dari kemaksiatan melainkan apabila dia meninggalkan negerinya dan menjauhi kemaksiatan tersebut.

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata,”Dalam hadits ini terkandung keutamaan pindah dari negeri yang di dalamnya manusia melakukan kemaksiatan, karena biasanya dia kalah menghadapi hal seperti itu, baik karena dia teringat dengan perbuatan-perbuatannya yang dahulu dan godaan untuk melakukan hal itu maupun karena keberadaan orang yang membantunya dan memotivasinya untuk melakukan hal itu. Karena itu, sang alim itu terakhir mengatakan, ‘Janganlah kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.’ Ini mengisyaratkan bahwa orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa dia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauhi dirinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.” (Fath al-Bari, 6/517-518)

Saudaraku, ketika bertubat, Anda tidak harus meninggalkan negeri Anda, karena jika tetap Anda lakukan, maka Anda akan selamanya menjadi pengembara, tidak bermukim. Tetapi orang yang bersungguh-sungguh, ketika merasa bahwa kemaksiatan senantiasa menggodanya, hendaklah dia berpikir panjang mengenai dirinya dan merenungkan, “Faktor-faktor apakah yang menyebabkan saya terjerumus ke dalam kemaksiatan ini?

Jika penyebabnya adalah berteman dengan si fulan dan bergaul bersamanya, maka hendaknya saya menjauhinya sebatas kemampuan. Jika penyebabnya adalah menyepi dan menyendiri, maka hendaknya aku meninggalkan atau menguranginya semampu mungkin. Jika penyebabnya adalah keluar ke pasar, menonton televisi atau membaca majalah, maka keinginanku untuk meninggalkan kemaksiatan harus membuatku meninggalkan semua itu terlebih dahulu.

Jika pikiranku mengenai kemaksiatan adalah bunga api yang menyala-nyala dalam diriku, maka hendaknya aku menjauhi pikiran ini dan menyibukkan diri dengan yang lebih baik daripada itu.”

Saudaraku yang mulia! Dalam jiwa itu terdapat faktor-faktor yang mengajak kepada kemaksiatan dan syahwat, yang senantiasa dilewati oleh saat-saat lalai, lemah dan putus semangat. Jika Anda tidak menahan diri Anda dan menjauhkannya dari tempat-tempat kemaksiatan, maka nyaris ia akan mengalahkan Anda.

Tahukah Anda, seandainya seseorang memegang tali kendali hewan tunggangannya padahal hewan tersebut melihat padang rumput di hadapannya, bukankah hewan tersebut akan menariknya ke sana? Bahkan mungkin akan mengalahkan dirinya. Sekiranya dia menjauhkannya, maka tentu itu lebih selamat baginya.

Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat kepada para sahabat beliau agar menjauhi pintu-pintu dan jalan-jalan kemaksiatan. Beliau bersabda kepada mereka,

“Janganlah kalian duduk-duduk di jalanan.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan duduk-duduk kami itu, karena di sanalah kami berbincang-bincang.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian enggan dan tetap ingin duduk-duduk, maka berikanlah hak jalan.” Mereka bertanya, Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, dan amar ma’ruf nahi mungkar.” (HR. Al-Bukhari, 6229 dan Muslim, 2121)

Maka renungkanlah, semoga Allah merahmatimu. Karena duduk-duduk di jalanan dapat menyebabkan terjadinya penyelisihan terhadap syariat dan kemaksiatan, maka terlebih dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mereka duduk-duduk di jalan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan bahwa alasan pelarangan ini adalah mengarahkan pandangan pada apa yang diharamkan oleh Allah. Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam berbicara kepada para sahabat beliau, orang-orang yang wara’ dan jauh dari keharaman. Padahal pasar-pasar Madinah, di dalamnya tidak ada wanita yang pamer aurat dan membuka wajahnya, bahkan wanita ketika berada di jalanan, dia melekatkan dirinya pada dinding di sisi jalan disertai dengan menutup auratnya dan merasa malu.

Dari Abu Usa’id al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu,

“Bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda saat beliau keluar dari masjid sementara kaum pria dan wanita berbaur satu sama lain di jalan. Beliau bersabda kepada kaum wanita, ‘Minggirlah kalian, sebab bukan hak kalian memadati tengah jalan, hendaklah kalian jalan di pinggir-pinggir jalan.’ Maka (saat lewat), wanita menempal diri pada dinding sehingga pakaiannya tersangku di dinding saking menempelnya dia pada dinding tersebut.” (HR. Abu Dawud, 5272)

Jika ini adalah realitas orang-orang itu, dan begitulah realitas kaum pria (sahabat) yang jauh dari kemaksiatan, kendati demikian, mereka dilarang mendekati pintu-pintu dan jalan-jalan menuju kemaksiatan; lalu bagaimana halnya dengan kita, orang-orang yang lancang bermaksiat, sementara pasar-pasar kita penuh dengan kaum wanita yang berdandan menor dan membuka auratnya?

Abdullah bin Abdullah bin Ubay Radhiyallahu ‘Anhu memahami pengertian ini dan bahwa dia harus menahan erat jiwanya serta menutup segala pintu dan jendela menuju kemaksiatan. Ketika sampai berita kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan membunuh ayahnya (yang merupakan tokoh munafik itu), dia datang kepada beliau seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku mendengar kabar bahwa engkau ingin membunuh Abdullah bin Ubay karena berita yang sampai kepadamu tentangnya. Jika engkau benar-benar akan melakukannya, maka perintahkanlah aku untuk melakukan hal itu dan aku akan membawa kepalanya kepadamu. Demi Allah, suku Khazraj tahu bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berbakti kepada orang tuanya di bandingkan aku. Aku khawatir engkau menyuruh orang lain melakukan itu lantas dia membunuhnya. Jangan biarkan diriku melihat pembunuh Abdullah bin Ubay berjalan di tengah-tengah manusia lantas aku membunuhnya. Akibatnya aku membunuh seorang Mukmin demi seorang kafir sehingga aku akan masuk neraka.” Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Kami akan bersikap lemah lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama dia tetap bersama kami.” (Sirah Ibnu Hisyam, 3/238; dan Marwiyyat Ghazwah Bani al-Mushthaliq, hal. 190-195)

Para fuqaha berpendapat, “Karena pengertian itulah, maka hukum syara’ menentukan bahwa seorang pezina harus diasingkan dari negerinya selama satu tahun agar dia menjauhi tempat kemaksiatan tersebut dan segala yang mengajaknya ke sana.”

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.