Antara Kemaksiatan dan Masalah

Antara Kemaksiatan dan Masalah

Adakalanya seorang pemuda terjerumus dalam salah satu kemaksiatan, lalu dia berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan diri darinya dan mencari faktor penyebabnya. Setelah mencoba, dia merasa bahwa itu tidak dapat dielakkan dan bahwa dirinya terjerembab dalam suatu problem yang membutuhkan sebuah solusi. Lalu dia bertanya dan mengadu kepada orang yang dia temui untuk bertanya kepadanya tentang solusi dan problem tersebut dan obat bagi penyakit tersebut.

Pada suatu hari tukang pos membawa sebuah surat dari seorang pemuda yang mengadu karena dia terjerumus dalam suatu kemaksiatan. Saya menulis sebuah surat panjang untuknya yang di dalamnya berisi apa yang saya lihat sebagai solusi syar’i baginya. Lalu dia mengirim surat kepada saya sebagai ucapan terimakasih dan penghargaan. Beberapa bulan kemudian tukang pos membawa surat lain untukku dengan tulisan dan problem yang sama, tetapi dengan nama lain. Akhirnya saya tahu bahwa dia adalah orang yang sama, dan saya katakan kepadanya: Dia mempunyai solusi yang tersimpan dalam satu hal, yaitu keinginan yang sungguh-sungguh dan tekad yang benar untuk meninggalkan kemaksiatan.

Benar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidak seorang pun hamba yang beriman melainkan dia mempunyai dosa yang dilakukannya dari waktu ke waktu, atau dosa yang senantiasa berada padanya yang tidak berpisah darinya sehingga dia berpisah dengan dunia. Sesungguhnya orang yang beriman itu diciptakan sebagai orang yang diuji lagi banyak bertaubat, pelupa, namun bila diingatkan, dia ingat.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir dan al-Ausath, sebagaimana dalam al-Majma’, 10/201)

Pertama: Kendatipun semua kemaksiatan mempunyai beberapa sebab dan pendorong, mempunyai pencegah dan solusi, namun solusi yang hakiki adalah tekad dan kesabaran. Seandainya seseorang kehilangan kunci mobilnya di padang yang tandus, maka pilihan satu-satunya baginya adalah mencarinya, dan ini pekerjaan yang berat dan sukar. Ketika dia bertanya kepada orang yang dapat menunjukkannya untuk memecahkan problemnya, maka dia tidak akan mengatakan kepadanya lebih dari ucapan, “Carilah dia di tempat kamu menghilangkan kunci tersebut.” Mungkin dia akan menjawab, “Aku telah melakukannya tetapi tidak berhasil.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak punya pilihan lain selain itu.”

Kedua: Orang Muslim mengetahui dengan yakin bahwa Allah Ta’ala tidak mengharamkan baginya kecuali apa yang dia sanggup meninggalkannya, dan tidak mewajibkan kepadanya kecuali yang apa yang dia sanggup melakukannya. Selama perkara itu haram, maka Anda pasti memiliki kemampuan untuk meninggalkannya, dan selama itu wajib, maka Anda pasti memiliki kemampuan untuk melakukannya, kecuali apabila seseorang sampai pada keadaan benar-benar terpaksa. Maka ketika itu, beban syariat tersebut gugur darinya.

Ketiga: Bedakan antara sesuatu yang sulit dan sesuatu yang mustahil, antara sesuatu yang berat Anda tinggalkan dan sesuatu yang sulit. Beban syariat di dalamnya pasti ada semacam beban bagi seorang hamba, tetapi itu adalah beban yang dia sanggupi. Karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Neraka itu diliputi dengan syahwat-syahwat, sedangkan surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai.” (HR. Al-Bukhari, no. 6487 dan Muslim, no. 2823)

Tetapi, seseorang hanya akan diberi pahala karena menjauhi kemaksiatan, apabila nafsunya mengajaknya kepadanya. Demikian pula seseorang hanya akan diberi pahala karena melakukan ketaatan, apabila nafsu tersebut membutuhkan darinya suatu amal dan pengorbanan.

Keempat: Perasaan pemuda bahwa dia jatuh dalam kemaksiatan berbeda dengan perasaannya bahwa dia jatuh dalam suatu problem. Yang pertama merasakan keterbatasannya, kelemahan imannya dan kebutuhannya untuk mengobati penyakit yang sebenarnya. Adapun yang kedua, dia sibuk mencari sebab yang sebenarnya dan solusi yang syar’i untuk mencari solusi bagi apa yang dia namakan sebagai problem. Karenanya, Anda dapati dia berkata kepada Anda, “Saya telah mencoba solusi ini tetapi saya belum mampu, dan saya juga telah mencoba jalan ini tetapi saya belum berhasil.”

Benar, tidak diragukan lagi, bahwa ada perkara-perkara tertentu yang dapat dijadikan seorang hamba sebagai nasihat (pelajaran) untuk membebaskan diri dari kemaksiatan tertentu. Kendati demikian, perkara-perkara tersebut tetap tergadai dengan adanya tekad yang jujur, dan tanpa keberadaannya, tidak mungkin langkah-langkah tersebut dapat membuat sesuatu yang dapat dibanggakan.

Bagikan dengan :
Posted in ARTIKEL ISLAMI.