Yayasan Riydahus Shalihin Indonesia

Definisi Sunnah

Definisi Sunnah

Pengertian sunnah menurut bahasa Arab berarti tradisi dan ketentuan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (peraturan-peraturan) Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 137)

Kesimpulan makna ayat: Telah berlalu pada bangsa-bangsa terdahulu beberapa tradisi tertentu yang telah dipilihkan Allah untuk kehidupan mereka. Akan tetapi mereka ingkar dan mendustakannya, oleh karenanya lalu Allah menghancurkan mereka, sehingga tidak ada seorang pun yang tertinggal.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا

“Sebagai suatu sunnatullah (peraturan-Nya) yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah.” (QS. Al-Fath [48]: 23)

Kesimpulan makna ayat: Ketentuan Allah yang telah berlaku semenjak dahulu terhadap umat manusia, yaitu kekalahan bagi orang-orang kafir dan kemenangan bagi orang-orang yang beriman, tetap berlaku dan tidak akan berubah.

Adapun makna sunnah menurut syar’iy mengandung dua pengertian:

Pertama: Sunnah yang berarti tidak wajib, misalnya perbuatan-perbuatan sunnah yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dalam beberapa hal yang menyangkut ibadah shalat.

Kedua: Sunnah dalam pengertian selain Al-Qur’an, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad ﷺ baik berupa perkataan; atau perbuatan atau pernyataan beliau sendiri.

Pengertian yang kedua inilah yang menjadi topik pembahasan mengenai sunnah sebagai sumber dan dasar hukum syariat yang kedudukannya sama dengan Al-Qur’an.

Yang dimaksud dengan perkataan Nabi ﷺ adalah perkataan yang pernah beliau ucapkan dalam kesempatan-kesempatan yang berkaitan dengan penetapan hukum syariat. Seperti sabda Nabi ﷺ berikut ini:

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang itu sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Muslim)

Beliau ﷺ bersabda:

“Termasuk hal yang dapat menyempurnakan Islam seseorang adalah kerelaannya untuk meninggalkan apa yang tidak berguna.” (HR. At-Tirmidzi)

Beliau ﷺ bersabda pula:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

Pengertian dari perbuatan Nabi ﷺ, adalah segala perbuatan Nabi ﷺ yang sampai kepada kita melalui para sahabatnya. Seperti cara wudhu beliau, cara beliau melaksanakan ibadah shalat lima waktu dengan gerakan serta rukun-rukunnya, cara menjalankan ibadah haji dan Umrah, dan keputusan beliau mengenai sumpah dan saksi. (Lihatlah al-Muwattha, hal: 721)

Adapun taqrir Nabi ﷺ, adalah sikap beliau yang menunjukkan diam, tidak menyanggah atau setuju, menyatakan salut dan dukungan terhadap hal-hal yang dilakukan oleh sebagian para sahabat atau apa-apa yang dikatakan mereka di hadapan beliau. Pengakuan dan persetujuan Rasulullah ﷺ terhadap hal-hal tersebut, hukumnya sama saja seperti beliau sendiri yang melakukannya.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu ‘Abbas, bahwa sahabat Khalid Ibnu ‘I-Waalid menjamu Rasulullah ﷺ daging dhab (semacam biawak). Khalid memakan daging tersebut akan tetapi Rasulullah ﷺ, tidak berkenan memakannya, sehingga sebagian para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah diharamkan memakannya?” Beliau ﷺ menjawab: “Tidak, akan tetapi binatang tersebut tidak terdapat di kampung kaumku sehingga aku jijik (tidak suka) padanya.”

Hadits lain mengenai hal ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa’i dari sahabat Sa’id Al-Khudriy Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, bahwa dua orang sahabat sedang melakukan suatu perjalanan. Di tengah jalan waktu shalat telah tiba, akan tetapi mereka tidak menemukan air untuk berwudhu, lalu mereka berdua bertayammum dengan debu yang suci. Setelah keduanya rampung mengerjakan shalat, tiba-tiba mereka menemukan air. Lalu salah seorang diantara mereka berdua, mengambil wudhu dan mengulangi shalatnya, akan tetapi temannya tidak. Setelah mereka sampai di hadapan Rasulullah ﷺ apa yang terjadi itu diceritakan kepada beliau. Beliau menjawab terhadap sahabat yang tidak mengulangi shalatnya: “Engkau mengerjakan apa yang sesuai dengan tuntunanku”. Dan kepada sahabat yang mengulangi shalatnya beliau bersabda: “Engkau telah mendapat pahala dua kali.” (Subulussalam, hal: 97)

Dan contoh lainnya mengenai masalah ini adalah taqrir (pengakuan) Rasulullah ﷺ atas ijtihad para sahabat tentang pelaksanaan shalat ‘Ashar dalam peperangan Bani Quraizhah. Pada waktu itu Nabi ﷺ bersabda:

“Jangan sekali-kali ada diantara kamu yang shalat ‘Ashar melainkan setelah sampai di Bani Quraizhah.”

Akan tetapi sebagian para sahabat memahami instruksi Nabi tersebut secara apa adanya, untuk itu maka mereka mengakhirkan shalat ‘Ashar sampai ke waktu Maghrib. Mereka berkata: “Kami tidak akan shalat kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah.” Dan sebagian para sahabat lagi memahami, bahwa maksud larangan Rasulullah ﷺ adalah agar mempercepat perjalanan. Untuk itu mereka mendirikan shalat ‘Ashar tepat pada waktunya. Kemudian berita tentang dua sikap para sahabat ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, dan ternyata beliau membenarkan sikap kedua kelompok tanpa mempersalahkan salah satu pihak. (Fathul Bari, hal: 412)

Demikian pula pengakuan Rasulullah ﷺ terhadap orang Habsyah yang sedang berlatih lembing di Masjid dengan sikap membiarkan mereka berlatih. (Fathul Bari, hal: 95)

Dan contoh lainnya mengenai taqrir Nabi ﷺ adalah pengakuan beliau terhadap kebiasaan yang dilakukan oleh pendudukan Madinah yaitu kebiasaan mereka meminjamkan hasil buah, dengan jangka masa pengembalian selama setahun atau dua tahun. (Subulussalam, hal: 49)

Dari sikap Rasulullah ﷺ terhadap semua peristiwa diatas disimpulkan hal-hal berikut: boleh memakan daging biawak, boleh shalat dengan tayammum dan boleh mengulanginya bila ada air, boleh berbeda pendapat dalam ijtihad mengenai masalah yang sama, boleh membawa senjata ke dalam Masjid, dan boleh berjual beli kontan atau berjangka.

Sekarang jelaslah bahwa setiap ucapan, perbuatan dan pengakuan Rasulullah ﷺ mempunyai kekuatan hukum dan merupakan sumber hukum syariat yang kedudukannya sama dengan Al-Qur’an.

Bagikan dengan :