Yayasan Riydahus Shalihin Indonesia

Berhati-hatilah Terhadap Dosa-dosa Yang Dianggap Remeh

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh
 
Berhati-Hatilah Terhadap Dosa-Dosa yang Dianggap Remeh

Berhubungan dengan penjelasan yang telah lalu mengenai menganggap besar suatu dosa ialah rasa takut dari dosa-dosa yang dianggap remeh. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperingatkan keras akan hal itu dan membuat suatu permisalan yang mendalam.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Berhati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh, seperti kaum yang singgah di perut lembah, lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat mematangkan roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa yang diremehkan, kapan saja pelakunya dihukum karenanya, maka dosa-dosa itu dapat membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa dia berkata,

“Berhati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh, karena sesungguhnya hal itu berhimpun dalam diri seseorang hingga ia membinasakannya. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat permisalan mengenai hal itu, yakni seperti kaum yang singgah di tanah kosong, lalu dimulailah aktivitas mereka (membuat makanan), maka seorang pergi lalu membawa ranting dan seorang lagi datang membawa ranting sehingga mereka mengumpulkan ranting yang banyak dan menyalakan api serta dapat mematangkan apa yang mereka lemparkan ke dalam api tersebut.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Ini adalah permisalan yang sangat mendalam dari manusia yang paling fasih, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, mengenai bahaya berhimpunnya dosa-dosa pada diri seorang hamba. Sebuah ranting atau dua ranting mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi jika ranting itu banyak, maka ia menjadi kayu bakar yang dapat menyalakan api dan mematangkan makanan.

Karena itulah Ibnul Mu’tazz mewasiatkan hal itu, mensinyalir makna tersebut:

*Jauhilah dosa-dosa yang kecil dan yang besar

*Itulah ketakwaan

*Bertindaklah layaknya orang yang berjalan di atas tanah yang penuh duri

*Dia berhati-hati terhadap apa yang dilihatnya

*Jangan sekali-kali engkau remehkan dosa kecil

*Sesungguhnya gunung-gunung itu berawal dari kerikil

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingatkan istri beliau, Aisyah Radhiyallahu Anha, dari hal itu seraya bersabda kepadanya,

“Wahai Aisyah, berhati-hatilah terhadap perbuatan-perbuatan (dosa) yang dianggap remeh, karena sesungguhnya akan ada yang menuntutnya yang datang dari sisi Allah.” (HR. Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

Dalam hadits Amr bin Al-Ahwash Radhiyallahu Anhu, dia berkata,

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda pada Haji Wada’ kepada segenap manusia, ‘Hari apakah ini… Ketahuilah, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk bisa disembah di negeri kalian ini selama-lamanya. Tetapi akan ada ketaatan kepadanya dalam amalan yang kalian anggap remeh, maka dia akan merasa puas dengan hal itu’.” (HR. Ibnu Majah)

Banyak sekali wasiat dari generasi salaf umat ini yang memperingatkan dosa-dosa yang dianggap remeh dan menjelaskan bahayanya terhadap seseorang.

Ka’ab berkata,

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar melakukan dosa kecil tapi dia tidak menyesal dan tidak pula beristighfar karenanya, maka dosa itu menjadi besar di sisi Allah sehingga menjadi sebesar gunung. Sementara seorang hamba yang melakukan dosa besar, lalu dia menyesal dan beristighfar karenanya, maka dosa itu menjadi kecil di sisi Allah Ta’ala sehingga Dia pun mengampuninya.” (HR. Al-Baihaqi)

Al-Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata,

“Sejauh mana kamu menganggap kecil dosamu, maka sejauh itu pula dosamu menjadi besar di sisi Allah. Dan sejauh mana kamu menganggap besar dosamu, maka sejauh itu pula dosamu menjadi kecil di sisi Allah.” (Ibid, no. 7152)

Dari Al-Hasan Rahimahullah, bahwasanya dia berkata,

“Barangsiapa yang melakukan kebajikan, meskipun kecil, maka ha itu akan menimbulkan cahaya dalam hatinya dan kekuatan dalam amalnya. Jika dia melakukan perbuatan buruk, meskipun kecil, namun dia menganggapnya remeh, maka hal itu akan menimbulkan kegelapan dalam hatinya dan kelemahan dalam amalnya.” (Ibid, no. 7219)

Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu Anhu bahwa dia berkata,

“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amal kebajikan, dan menyadarkan keselamatan padanya, dan dia melakukan perbuatan-perbuatan (dosa) yang dianggap remeh hingga dia datang kepada Allah dalam keadaan perbuatan-perbuatan (dosa) yang dianggap remeh tersebut telah membahayakannya. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amal keburukan tapi dia menyesalinya, sehingga dia datang kepada Allah dalam keadaan aman.” (Ibid, no. 7266)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Jika dia tahu demikian, lalu seorang hamba menganggap kecil kemaksiatan tersebut, itu berarti kelancangan terhadap Allah, tidak mengetahui kedudukan Siapa yang dia maksiati dan hakNya. Itu tidak lain adalah perlawanan. Karena jika dia menganggap kecil dan sedikit kemaksiatan tersebut, maka perkara kemaksiatan itu kecil baginya dan ringan dalam hatinya. Dan itu adalah salah satu bentuk perlawanan.” (Madarij as-Salikin, 1/290)

Saudaraku yang mulia! Betapa banyak perkataan yang kita ucapkan, yang tidak kita pikirkan akibatnya, yang isinya berkisar antara mengolok-olok sesama Muslim, mencibirinya, dan melecehkan kehormatannya atau kata-kata yang tidak benar. Ditambah lagi pandangan yang liar, tidak sempurna dalam mengerjakan kewajiban yang tidak kita pedulikan. Demikianlah sehingga melahirkan air bah yang dahsyat. Setelah itu kita bertanya, “Mengapa hati kita keras?”

Wallahu A’lam.

Bagikan dengan :